MANAGED BY:
SABTU
19 JANUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

EKONOMI

Kamis, 18 Januari 2018 11:37
Kebutuhan Cabai hingga 1,5 Ton

Masih Bergantung Pasokan Luar Daerah

BANYAK DIBUTUHKAN: Cabai di wilayah Kaltara seperti di Tarakan masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Kebutuhan bahan pangan di Kaltara masih bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Sulawesi dan Jawa. Ini akibat produksi komoditas pangan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat per harinya.

Cabai, misalnya. menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara Andi Santiaji Pananrangi, dalam sehari kebutuhan cabai di Tarakan saja mencapai 1,5 ton.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pasokan cabai didatangkan dari Enrekang, Sulsel. Selain itu, ada juga pasokan dari Palu, Sulawesi Tengah. Pasokan dalam sehari yang masuk ke Tarakan, berdasarkan laporan dari distributor, kata Andi, sekitar 900 kg.

“Cabai dari Enrekang, malamnya dikirim ke Makassar. Dari Makassar, cabai dikirim menggunakan pesawat ke Tarakan. Makanya harganya jadi agak mahal. Juga ada dikirim dari Tolitoli menggunakan kapal,” jelasnya, Rabu (17/1).

Tingginya kebutuhan cabai di Kaltara ini perlu mendapatkan perhatian masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan cabai dan menekan harga di pasaran, masyarakat diminta untuk mulai menanam cabai di pekarangan rumah atau lahan yang kosong. Menanam cabai sendiri tidak terlalu sudah dilakukan dan tidak perlu lahan yang terlalu luas.

“Masyarakat bisa menanam pakai polybag-polybag yang diisi tanah dan pupuk. Masa panennya juga tidak terlalu (lama). Sehingga, kebutuhan cabai di rumah tangga bisa terbantu dan tidak ketergantungan dengan pasokan dari luar,” sarannya.

DPKP berencana menggandeng TP PKK menggerakkan rumah tangga dan pelajar untuk mulai bertani, khususnya di pekarangan rumah maupun sekolah. Dia mengatakan, kurangnya pasokan kebutuhan pangan juga diakibatkan berkurangnya jumlah petani di Kaltara. Sehingga, perlu dilahirkan petani-petani baru untuk meningkatkan produksi hasil pertanian.

“Komoditas pangan lain juga masih dipasok dari daerah lain seperti kentang, kol, dan lainnya. Sekarang anak petani tidak ada yang jadi petani. Sekarang kita punya kewajiban melahirkan petani-petani baru,” bebernya. (rus/fen)


BACA JUGA

Selasa, 24 November 2015 18:39

Pasar Tenguyun jadi Lautan Sahabat Pejuang

<p><strong>TARAKAN &ndash;</strong> Setelah sukses menggelar jalan sehat santai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*