MANAGED BY:
KAMIS
21 MARET
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Sabtu, 27 Januari 2018 14:10
NGERI..!! Ada Seribu Lebih Gay di Tarakan

Kadisdik Sebut Ada Guru Berperilaku LGBT

Ilustrasi

PROKAL.CO, TARAKAN – Lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) kembai menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Yakni, terkait akan dibuatnya aturan terkait melegalkan LGBT.

Namun, terlepas persoalan itu, perkembangan LGBT Tarakan dari tahun ke tahun ternyata cukup mengagetkan. Terutama penyuka lelaki sesama lelaki atau kaum gay.

Anggota Komisi II DPRD Tarakan Syamsuddin Arfah, bahkan tidak menyangka perkembangannya begitu pesat, terutama dalam dua tahun terakhir. “Saya lihat ini data untuk Tarakan 2016, lelaki suka sesama lelaki berjumlah 1.048 (orang). Yang waria 117 orang. Pada 2017, 811 orang, warianya 158 orang,” ungkap politisi PKS ini, Jumat (26/1).

Syamsuddin mengaku mendapatkan data itu dari rekannya di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara. Itu sebabnya ia pun kaget mendapati data tersebut.  Syamsuddin pun menganggap pola perkembangan kasus penyuka lelaki sesama lelaki ini tidak ubahnya seperti HIV/AIDS. Yakni, seperti fenomena gunung es. Dari awalnya hanya satu orang berkembang menjadi ratusan orang dan tidak memilih siapa pun.

Namun, ia pun tidak menyangsikan perkembangannya yang begitu cepat karena melihat kondisi Tarakan sebagai daerah transit. Sehingga, membuka kesempatan bagi penyakit moral ini berkembang melalui perilaku sehari-hari.

Dengan data yang diperolehnya, Syamsuddin menyarankan kepada semua pihak agar perlu dilakukan segera langkah-langkah penanganan untuk mencegah berkembang lebih luasnya penyakit moral ini. 

Selain perlu dibuat regulasi, yang tak kalah pentingnya, kata Syamsuddin, adalah menyadarkan masyarakat tentang hukum serta bahaya penyakit moral ini melalui pendidikan agama, formal, serta kebudayaan.

Menurutnya, selain dianggap perbuatan dosa oleh agama, penyakit moral ini juga bisa berdampak pada penyakit HIV/AIDS. Sehingga, sangat berbahaya bagi manusia. Budaya daerah juga tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu sehingga perlu dijauhi.

Namun, yang paling penting baginya adalah penguatan pada aspek keluarga, karena keluarga merupakan benteng terakhir dari perlindungan. Caranya, dengan mengampanyekan sebuah gerakan yang mampu melindungi keluarga dari bahaya penyakit moral ini.

Misal, kata dia, membatasi pergerakan anak-anak bermain sosial media karena dianggap bisa memengaruhi. Selain itu, memberlakukan jam belajar mulai pukul 6 sampai 8 malam hingga membatasi jadwal keluar rumah tidak lebih dari jam 10 malam.

“Kalau keluarganya kuat, maka insya Allah yang ada di dalam lingkup rumah tangga itu kuat. Tapi kalau keluarga tidak kuat, ya habis,” tuturnya.  

Hal lain adalah koordinasi yang intens dari semua pihak. Mulai dari pemberdayaan perempuan, Dinas Kesehatan, BNN, dan Dinas Pendidikan, kepolisian hingga kepada organisasi agama dan tokoh masyakat. Mereka harus duduk satu meja membicarakan langkah-langkah konkret pencegahan, tidak bisa berjalan masing-masing.

“Bagaimanapun saya menganggap ini termasuk dari kondisi moral dari kota kita. Kita kota transit, pintu gerbang masuk Kaltara ada di sini sehingga hal yang bersifat moral harus diperkuat,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan Ilham Nor, mengaku sudah mengantisipasi perkembangan penyakit moral ini bagi pelajar.

“Kami dari pihak sekolah senantiasa melakukan pengawasan yang ketat terhadap gejala-gejala yang timbul. Yang kedua, kami lihat pola pergaulan mereka sehari-hari. Kalau kita lihat dia mulai senang dengan laki-laki, itu kan ciri-ciri pertamanya. Nah, hati-hati,” ujarnya.

Terlepas antisipasi terhadap penyebaran LGBT di kalangan pelajar, Ilham Nor menyayangkan adanya komunitas LGBT di Tarakan. Organisasi inilah yang dinilainya ikut memengaruhi perkembangan LGBT di Tarakan, karena menjadi wadah berkumpul dan berkomunikasi mereka. Bahkan, dia juga menyebut tenaga pendidik pun ada yang berperilaku seperti itu.

“Guru pun seperti itu. Karena mungkin dari pergaulan selama ini,” ujarnya. (mrs/fen)


BACA JUGA

Rabu, 20 Maret 2019 12:50

Kenaikan Gaji PNS Tunggu Payung Hukum

TARAKAN – Presiden RI Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah…

Rabu, 20 Maret 2019 12:00

Pakai Sampah untuk Listrik, Investor Di-deadline Tiga Bulan

TARAKAN – Wali Kota Tarakan Khairul, memberikan waktu tiga bulan…

Selasa, 19 Maret 2019 14:50

Tahun Ini, Mapolres KTT Ditarget Rampung

TANJUNG SELOR – Pembangunan markas polres di Kabupaten Tana Tidung…

Selasa, 19 Maret 2019 14:44

Jargas Normal, Pemadaman Bergilir Lanjut

Walau sempat terganggu, pelayanan jaringan gas (jargas) bagi masyarakat Tarakan…

Senin, 18 Maret 2019 14:05

Banyak Juga, Selisih Utang Capai Rp 155 M

Kota Tarakan menjadi yang pertama di Kalimantan Utara yang telah…

Sabtu, 16 Maret 2019 13:13

PLTMG Ditarget Beroperasi Awal April

TARAKAN – Listrik di ibu kota Kalimantan Utara, Tanjung Selor,…

Sabtu, 16 Maret 2019 13:11

Pasutri Jadi Pengedar Narkoba

TARAKAN – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara kembali menangkap…

Jumat, 15 Maret 2019 14:38

Kecelakaan Kerja Dianggap Fatal

TARAKAN – Kecelakaan kerja yang menewaskan seorang pekerja pada proyek…

Jumat, 15 Maret 2019 14:20

Terbawa Arus, Nelayan Tenggelam di Bawah Tongkang

TARAKAN – Sejumlah nelayan yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional…

Kamis, 14 Maret 2019 14:43

PLTSa Dibangun di Kawasan Kunak

TARAKAN – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) oleh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*