MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Senin, 16 Juli 2018 16:15
Pemerintah Telah Berupaya, Bentuk Kreasi Recycle Unggul

Menelaah Kondisi Pasar Induk Tanjung Selor (2-habis)

BELUM DIMANFAATKAN: Tempat pengelolaan sampah yang ada di dekat Pasar Induk Tanjung Selor.

PROKAL.CO, class="p1">Upaya untuk mengelola sampah di Pasar Induk Tanjung Selor sejatinya telah dilakukan. Sayangnya, belum maksimal. Tempat pengolahan sampah yang ada di dekat pasar, belum digunakan dengan baik. 

 

ARIFUDDIN, Tanjung Selor

 

DINAS Lingkungan Hidup Bulungan sudah sadar terhadap persoalan sampah di Pasar Induk Tanjung Selor. Dengan cara membangun Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R) yang berjarak 100 meter dari pasar.

Tempat itu menjadi tulang punggung dalam mengatasi persoalan sampah pada pusat perdagangan di ibu kota. Namun, terobosan itu diakui DLH Bulungan memang belum maksimal.

Asnawir, salah seorang staf bidang kebersihan dan limbah, DLH Bulungan mengatakan, TPS3R yang berada di dekat pasar, menjadi satu-satunya tempat pengolahan sampah.

Itu pun hanya sebatas pemilahan. Belum sampai pemanfaatan ulang, agar sampah tersebut dapat digunakan menjadi barang siap pakai.

Minimnya anggaran dan fasilitas diauki Asnawir menjadi kendala utama dalam pengolahan sampah. Tidak hanya sampah yang ada di Pasar Induk Tanjung Selor. Nyaris di seluruh Bulungan.

“Sampah yang tidak diangkut dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir tidak ada pembayaran retribusi kebersihan. Sehingga sampah yang ada tidak diangkut oleh petugas di lapangan. Penjelasan selanjutnya bisa dengan pimpinan saja,” sarannya.

Sayang, saat Bulungan Post menyambangi kantor DLH Bulungan, Jumat (13/7), Kepala Bidang Kebersihan dan Limbah B3, Syarwani tidak ada di tempat. Sehingga tak bisa memberikan keterangan terkait pengelolaan sampah di pasar induk.

Sistem pengolahan sampah di TPS3R pun tidak terlalu buruk. Dengan adanya TPS3R yang hanya berjarak 100 meter dari pasar, sudah menunjukkan ikhtiar untuk menganggulangi persoalan sampah.

Secara teknis pemerintah telah melakukan penanganan sampah tersebut dengan cukup kreatif. Caranya dengan membentuk kelompok Kreasi Recycle Unggul.

Supardi, Ketua kelompok tersebut yang ditemui Bulungan Post  di TPS3R dekat pasar mengatakan, tempat pembuangan sementara yang ada di belakang pasar induk, baru memilah sampah berdasarkan jenisnya. Adapun sampah yang didaur ulang, hanya jenis organik untuk menjadi pupuk.

“Lembaga yang didirikan ini atas kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan. Dibantu oleh pemerintah dengan menyediakan fasilitas bangunan dan peralatan untuk mendukung pemanfaatan sampah menjadi pupuk organik,” jelas Supardi.

Dia menjelaskan, sampah dari pasar dan warga sekitar lingkungan TPS3R sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir dipilah dulu oleh anggota Kreasi Recycle Unggul. Sampah yang dibawa ke tempat pengolahan sementara pasar akan melewati proses, Reuse, Reduce, recycle (3R).

Namun, upaya kelompok Supardi memang belum signifikan dalam mengatasi persoalan sampah. Pasalnya kelompok Kreasi Recycle Unggul baru dibentuk awal tahun ini. Pun penyediaan bangunan, peralatan dan mesin daur ulang juga baru diberikan oleh Pemkab Bulungan tahun ini. “Maret ini, kami baru memulai mengolah sampah,” jelasnya.

Setiap hari, ada sepuluh kubik sampah yang diolah kelompok Supardi. Dari sepuluh kubik sampah itu, menjadi empat kubik pupuk. Proses pengolahan sampah tersebut menjadi pupuk dilakukan selama 23 hari.

Belum signifikannya pengolahan sampah yang dilakukan Supardi dan kawan-kawan juga karena minimnya tenaga. Saat ini, Supardi hanya dibantu empat orang rekannya. “Kendalanya karena tenaga kerjanya kurang,” jelasnya.

Padahal, sampah yang diolah jelasnya cukup banyak. Terutama jenis sampah kering berupa kardus. 

Belum lagi persoalan dana operasional yang juga menjadi momok terhadap keberlangsungan kelompok Kreasi Recycle Unggul. Padahal, untuk mengolah sampah kering berupa kardus terang Supardi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Biaya operasionalnya besar, kalau kita mengolah sebulan listriknya itu empat ratus ribu sebulan belum lagi airnya. Jadi memang kurang,” akunya.

Ia berharap instansi terkait lebih memerhatikan kelompoknya tersebut. Dengan harapan, manfaat terhadap pengolahan sampah, tidak hanya sekadar untuk lingkungan. Tapi juga dapat memberi manfaat secara ekonomi. (*/rio)


BACA JUGA

Minggu, 24 Maret 2019 14:59

Rumah Warga Dihantam Longsor

TARAKAN – Tanah longsor dan banjir masih menjadi persoalan serius…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:10

Besok Ditarget Normal

Pemadaman listrik yang terjadi di Kota Tarakan dan Tanjung Selor,…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:07

Pembangkit PT SAS Mati Total

TANJUNG SELOR - Pemadaman listrik bergilir untuk wilayah Tanjung Selor…

Jumat, 22 Maret 2019 14:20

Kerja Sama Indonesia – RRT, PLTA Kayan Masuk Prioritas

NUSA DUA – Kerja sama antara Indonesia dengan Republik Rakyat…

Jumat, 22 Maret 2019 14:17

Kapolda: Almarhum adalah Pahlawan Bangsa

Lagu gugur bunga mengiringi keberangkatan jenazah almarhum Bharatu Anumerta Muhammad…

Jumat, 22 Maret 2019 14:13

Hantam Orang Menyeberang Jalan, Nyawa Mahasiswi Melayang

TANJUNG SELOR - Nasib nahas menimpa Reka (19), warga Jalan…

Kamis, 21 Maret 2019 13:48

Gelap-gelapan Lebih Panjang

TANJUNG SELOR – Pemadaman listrik bergilir di Bulungan, kembali dijadwalkan…

Kamis, 21 Maret 2019 13:46

Polisi KKSB Baku Tembak, Personel Brimob asal Nunukan Gugur di Papua

TANJUNG SELOR - Bharada Aldy, anggota Korps Brimob Polri dari…

Kamis, 21 Maret 2019 13:43

Pencabulan Terungkap karena Ada Bercak Darah

TARAKAN – Sungguh keterlaluan perbuatan CK (37). Warga Karang Anyar,…

Kamis, 21 Maret 2019 13:42

Tiga Jam Mengintai, Polisi Bekuk Penjudi Togel

TANJUNG SELOR – Ambo Tuwo (65), harus merasakan dinginnya ruang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*