MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Rabu, 18 Juli 2018 14:28
Bikin Keluarga Terkejut, Dikenal Bersahaja dan Pekerja Keras

Riwayat Korban yang Dibunuh Orang Gila di Samarinda

MENUJU PERISTIRAHATAN TERAKHIR: Prosesi pemakaman Muhammad Riharja sebelum dikebumikan di TPU Muslim, Mamburungan, Tarakan Timur, Selasa (17/7) siang.

PROKAL.CO, class="p1">Muhammad Riharja harus pulang ke kampung halaman dalam keadaan tragis. Ia dibunuh oleh orang gila, saat hendak salat di Masjid Agung Pelita, Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (16/7) sore. Padahal, bagi keluarga dan sahabat, ia dikenal sebagai sosok yang bijak dan sering memberi nasihat.

 

ADE JULIAN NUR, Tarakan

 

SUASANA hening. Hanya isak tangis yang terdengar di sebuah rumah di Jalan Sei Ngingitan RT 11 Mamburungan, Tarakan Timur, Selasa (17/7) pagi. 

Rumah itu adalah tempeh persinggahan. Sebelum Muhammad Riharja Bin Jafar menuju peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim, Mamburungan.

Terlihat beberapa kerabat, teman dekat, rekan kerja, serta tetangga mengerumuni rumah yang dicat putih kecoklatan sejak pagi. 

Di halaman, tenda biru berdiri tegak. Para kerabat yang tak bisa masuk ke dalam rumah, menunggu di halaman. Selembar kain berwarna putih yang diikat pada sebatang bambu, berkibar hati-hati mengikuti embusan angin di dekat rumah. 

Amod-panggilan akrab Muhammad Riharja- adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kaltim. Ia menjadi korban kebrutalan orang dengan gangguan jiwa. 

Amod dipukul dengan palu. Hingga mengalami luka parah di bagian wajah. Karena pendarahan, nyawanya pun tak dapat ditolong. 

Keluarga Amod di Tarakan yang mendengar kejadian tersebut pun terkejut. Terlebih kedua orangtuanya. Pasalnya, Amod dikenal sosok yang tidak pernah membuat onar.

Sekira pukul 11.30 Wita, jenazah ayah 3 anak tersebut tiba di rumah duka. Diiringi suara sirine.

Ketika jenazah digotong keluar dari dalam ambulans ada dua sosok yang terlihat sangat terpukul dengan. Yakni, kedua orangtua Amod. Sang ibu bahkan jatuh pingsan karena mampu membendung emosinya.

Sementara sang ayah, Jafar, mengatakan seperti bermimpi. Karena ia tak menyangka kehilangan seorang anak dengan cara naas seperti ini.

Menurutnya, lebih baik ia yang menemu Sang Pencipta lebih dahulu ketimbang darah daging yang dibesarkannya dengar cucuran keringat. 

Hal yang paling disesalinya adalah ketika tak ada satu pun keluarga yang menemani Amod saat detik-detik terakhirnya.

“Kemarin (Senin, Red) sekira pukul 17.30 Wita, saya ditelpon rekan kerjanya mengatakan kalau anak saya sudah tidak ada dengan cara seperti itu. Sebagai manusia gudangnya khilaf saya sempat sangat marah bahkan hampir tidak bisa menahan emosi. Setelah saya sadar semua kehendak Allah saya hanya bisa berserah,” ungkap mantan Kepala Desa Mamburungan tersebut kepada Bulungan Post. 

Ia melanjutkan, Amod merupakan seorang pekerja keras. Terbukti waktu masih semasa remaja, sembari sekolah di SMAN 2 Tarakan, almarhum juga bekerja mencuci mobil untuk tambahan uang saku. Tujuannya, untuk meringankan beban kedua orangtuanya. 

Di sela waktu kosong almarhum juga sering memberi pakan sapi milik orangtuanya.

Bahkan ketika ia mengenyam bangku kuliah di Universitas Gajah Mada, Jogjakarta ia tidak pernah menuntut, bahkan meminta tambahan uang. 

Amod selalu mengerti dengan keadaan orangtuanya yang saat itu untuk tunjangan seorang kepala desa hanya berkisar Rp 7 hingga 13 ribu. Itu pun dibayar tiap 3 bulan sekali.

“Biasanya kadang-kadang sebulan saya cuman berikan uang sebesar Rp 50 ribu untuk makan. Dan dia tidak pernah meminta, dan tinggal di asrama Bulungan di sana,” ungkapnya.

Jafar yang menceritakan riwayat sang putra, tak mampu menahan tangis. Apalagi mengingat kebaikan sang anak yang selalu bekerja keras.

Masih segar dalam ingatan Jafar, sebelum menjadi PNS, Amod sempat bekerja sebagai pemotong rumput dan tukang jahit. Namun, almarhum tak mengeluh. Tetap berjuang.

Jafar yang bercerita secara terbata-bata, mengaku, mendapat firasat dua hari sebelum sang anak meninggal. Tanggannya seperti kejang. Kejang dalam waktu cukup lama. Saat itu, dia berdoa kepada Allah jika ini pertanda berikanlah yang terbaik buat kami dan sekeluarga. 

Ternyata firasat itu benar menandakan anak kedua dari lima bersaudara itu harus berakhir di tangan seseorang yang diduga gila.

“Sepuluh hari yang lalu ia pulang ke Tarakan untuk bertemu saya dan ibunya. Tak berselang beberapa hari ia kembali ke Samarinda. Tidak tahu alasannya hanya ingin bertemu,” ungkapnya.

Dengan itu, Jafar berharap semoga anaknya dapat diterima di sisiNYA. “Semoga kejadian tersebut menjadi pertama dan terakhir,” harap Jafar.

Setelah Salat Dzuhur, jasad Amod pun dibawa ke TPU Muslim yang tidak jauh dari rumah. Keluarga serta kerabat, ikut mengiringi kepergiannya. Jafar serta sang istri, juga ikut untuk mengantarkan putra kebanggannya menuju peristirahatan terakhir. (*/rio) 


BACA JUGA

Sabtu, 23 Maret 2019 13:10

Besok Ditarget Normal

Pemadaman listrik yang terjadi di Kota Tarakan dan Tanjung Selor,…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:07

Pembangkit PT SAS Mati Total

TANJUNG SELOR - Pemadaman listrik bergilir untuk wilayah Tanjung Selor…

Jumat, 22 Maret 2019 14:20

Kerja Sama Indonesia – RRT, PLTA Kayan Masuk Prioritas

NUSA DUA – Kerja sama antara Indonesia dengan Republik Rakyat…

Jumat, 22 Maret 2019 14:17

Kapolda: Almarhum adalah Pahlawan Bangsa

Lagu gugur bunga mengiringi keberangkatan jenazah almarhum Bharatu Anumerta Muhammad…

Jumat, 22 Maret 2019 14:13

Hantam Orang Menyeberang Jalan, Nyawa Mahasiswi Melayang

TANJUNG SELOR - Nasib nahas menimpa Reka (19), warga Jalan…

Kamis, 21 Maret 2019 13:48

Gelap-gelapan Lebih Panjang

TANJUNG SELOR – Pemadaman listrik bergilir di Bulungan, kembali dijadwalkan…

Kamis, 21 Maret 2019 13:46

Polisi KKSB Baku Tembak, Personel Brimob asal Nunukan Gugur di Papua

TANJUNG SELOR - Bharada Aldy, anggota Korps Brimob Polri dari…

Kamis, 21 Maret 2019 13:43

Pencabulan Terungkap karena Ada Bercak Darah

TARAKAN – Sungguh keterlaluan perbuatan CK (37). Warga Karang Anyar,…

Kamis, 21 Maret 2019 13:42

Tiga Jam Mengintai, Polisi Bekuk Penjudi Togel

TANJUNG SELOR – Ambo Tuwo (65), harus merasakan dinginnya ruang…

Rabu, 20 Maret 2019 11:51

Sudah 10 Hektare Lahan Terbakar di Bulungan, Pemilik Sengaja Membakar

TANJUNG SELOR – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) belum berhasil…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*