MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Jumat, 20 Juli 2018 13:03
Terhambat Bahasa Daerah, Tembus Pedalaman Kaltara

Upaya Komunitas Jendela Nusantara Ikut Mencerdaskan Bangsa

AMBIL BAGIAN: Ketua Komunitas Jendela Nusantara Rahmadina, memperlihatkan buku bacaan yang tersedia di komunitasnya.

PROKAL.CO, class="p1">Berlawal dari keprihatinan terhadap rendahnya tingkat membaca anak-anak di Kaltara, segelintir anak muda kemudian membentuk Komunitas Jendela Nusantara. Upaya itu dilakukan untuk membantu mengatasi persoalan itu.

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan

 

KONSTITUSI memberi dalil bahwa negara bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu tertuang dalam alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Sayangnya, sudah 73 tahun, masih ada anak-anak terutama di wilayah terpencil dan pedalaman yang justru belum merasakan hak-haknya sebagai warga negara atas pendidikan.

Hal itu kemudian yang mendorong Rahmadina, mendirikan Komunitas Jendela Nusantara. Ide itu tercetus pada 2015 lalu. 

Perempuan yang aktif pada berbagai kegiatan sosial lainnya itu kemudian mengajak rekan-rekannya sesama aktivitas berdisuksi soal pendidikan di Bumi Benuanta. 

“Buat suatu wadah yang tujuannya untuk pemerataan pendidikan dan sebaran virus literasi. Jadi sebelum ada literasi-literasi yang ada sekarang, kajian sudah ada,” tutur Rahmadina kepada Bulungan Post, Senin (16/7).

Komunitas ini mendapat respons positif dari masyarakat Tarakan. Hingga kini, telah memiliki anggota mencapai 100 orang, dengan latar belakang pekerjaan dan kemampuan.

Dalam kegiatannya, Rahmadina dan kawan-kawan bukan tanpa hambatan. Sebab, mereka tidak hanya menyalurkan amanah donatur menyalurkan sumbangan berupa buku bacaan dan alat tulis, tapi juga juga dituntut memberikan pemahaman kepada anak-anak pedalaman yang tingkat literasinya masih rendah.

“Kalau membaca cepat, enggak, tapi kalau mengeja bisa. Bisa sih tapi masih terbata-bata. Kelas VI, juga masih banyak, realitanya seperti itu,” beber Rahmadina.

“Waktu di Desa Tulang (Nunukan), jadi kita ini ngajar, bawa buku paket dan pas hari itu mereka lagi ujian sekolah. Jadi kita bantu gurunya. Ketika di lapangan kita kaget loh kok gurunya pakai bahasa daerah? Ternyata anak-anak tidak mengerti bahasa Indonesia,” lanjutnya.

Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Dayak Agaba. Hal itu diakuinya turut yang menghambat program sosial lainnya saat masuk ke daerah pedalaman. 

Ia menyebut, Program Indonesia Mengajar juga sempat masuk di desa itu. Namun karena komunikasi pengajarnya yang kurang memahami bahasa daerah setempatm di tambah lagi tidak terbiasa dengan lingkungan pedesaan, sehingga tidak bertahan lama.

Namun hambatan itu tidak menyurutkan semangat komunitas ini untuk terus memberikan yang terbaik baik untuk anak pedalaman. Terbukti tiga tahun berdiri, Komunitas Jendela Nusantara sudah mampu menyalurkan ribuan buku bacaan dan alat tulis bagi anak-anak kelas I sampai III sekolah dasar (SD). Kebanyakan disebar di wilayah-wilayah pedalaman, terutama di Nunukan.

Buku-buku tersebut selain berasal dari relawan yang tergabung dalam Komunitas Jendela Nusantara, juga dari donatur-donatur tetap baik pribadi, lembaga, instansi maupun perusahaan. Ada juga bantuan dari pustaka bergerak yang diterima setiap bulan tanggal 17.

Komunitas Jendela Nusantara lebih banyak menyentuh anak-anak pedalaman seperti di Nunukan dan Tanjung Selor. Karena kondisi rendahnya tingkat literasi ditemukan di dua daerah tersebut. Tugas ini dilakukan setahun dua kali karena keterbatasan anggaran.

“Secara finansial kita masih open donasi. Siapa yang ingin donasi. Karena kalau dari kota ke desa biayanya kalau untuk transport saja biasanya kita satu orang sampai Rp 5 juta. Kalau kita bawa 10 relawan sudah Rp 2,5 juta. Belum lagi kalau kita sewa long boat sampai ke atas hulu,” tuturnya.

Beruntung, sekarang pemerintah desa yang dikunjungi juga ikut mendukung kegiatan mereka. Dengan membantu menyiapkan akomodasi dan transportasi selama di desa tersebut. Karena masyarakat setempat merasa terbantu dengan kegiatan yang dilakukan Komunitas Jendela Nusantara. (*/rio)


BACA JUGA

Senin, 25 Maret 2019 11:54

Peringatan Tak Mempan, Pengetap BBM Diancam Pidana 3 Tahun Penjara

TANJUNG SELOR – Tiga unit mobil dengan tangki modifikasi, diamankan…

Minggu, 24 Maret 2019 14:59

Rumah Warga Dihantam Longsor

TARAKAN – Tanah longsor dan banjir masih menjadi persoalan serius…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:10

Besok Ditarget Normal

Pemadaman listrik yang terjadi di Kota Tarakan dan Tanjung Selor,…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:07

Pembangkit PT SAS Mati Total

TANJUNG SELOR - Pemadaman listrik bergilir untuk wilayah Tanjung Selor…

Jumat, 22 Maret 2019 14:20

Kerja Sama Indonesia – RRT, PLTA Kayan Masuk Prioritas

NUSA DUA – Kerja sama antara Indonesia dengan Republik Rakyat…

Jumat, 22 Maret 2019 14:17

Kapolda: Almarhum adalah Pahlawan Bangsa

Lagu gugur bunga mengiringi keberangkatan jenazah almarhum Bharatu Anumerta Muhammad…

Jumat, 22 Maret 2019 14:13

Hantam Orang Menyeberang Jalan, Nyawa Mahasiswi Melayang

TANJUNG SELOR - Nasib nahas menimpa Reka (19), warga Jalan…

Kamis, 21 Maret 2019 13:48

Gelap-gelapan Lebih Panjang

TANJUNG SELOR – Pemadaman listrik bergilir di Bulungan, kembali dijadwalkan…

Kamis, 21 Maret 2019 13:46

Polisi KKSB Baku Tembak, Personel Brimob asal Nunukan Gugur di Papua

TANJUNG SELOR - Bharada Aldy, anggota Korps Brimob Polri dari…

Kamis, 21 Maret 2019 13:43

Pencabulan Terungkap karena Ada Bercak Darah

TARAKAN – Sungguh keterlaluan perbuatan CK (37). Warga Karang Anyar,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*