MANAGED BY:
RABU
27 MARET
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Minggu, 22 Juli 2018 11:04
Butuh Keseriusan, Punya Hak yang Sama

Cara Pemerintah Menangani Anak Berkebutuhan Khusus

BUTUH PENANGANAN KHUSUS: Siswa SLB Negeri Tanjung Selor sedang bermain sembari belajar.

PROKAL.CO, class="p1">Pemerataan pendidikan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas bagi pemerintah. Tidak hanya bagi anak-anak usia wajib belajar saja. Pendidikan juga harus dirasakan kepada anak berkebutuhan khsusus.

 

ARIFUDDIN, Tanjung Selor

 

PENINGKATAN kualitas tenaga pengajar, sarana dan fasilitas pendidikan terus dilakukan di wilayah pelosok hingga perbatasan.

Upaya itu dilakukan agar semua anak usia sekolah, mendapatkan haknya untuk belajar. Tak peduli anak itu berasal dari mana. Kondisinya seperti apa. Pemerintah wajib memberikan haknya.

Salah satu yang perlu mendapatkan perhatian lebih soal pendidikan adalah anak kebutuhkan khusus. 

Persoalan ini pasalnya, tidak hanya terjadi di daerah. Di Jakarta, yang notabene merupakan pusatnya pemerintahan, masih banyak ditemukan kasus anak kebutuhan khusus tak mendapatkan pendidikan yang layak.

Alhasil, masih banyak pula anak berkebutuhan khusus yang kita temukan dikucilkan oleh masyarakat. Terlebih, kondisi sosial masyarakat, belum memberikan ruang yang setara kepada anak-anak kebutuhan khusus.

Persoalan ini disadari benar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara.  Sekretaris Disdikbud Kaltara Teguh Heri Susanto mengatakan, anak kebutuhan khusus membutuhkan pendidikan. Agar mampu bersaing dengan anak yang normal. Namun, perlu penanganan khusus pula.

Pasalnya, untuk bisa memberikan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus, membutuhkan upaya lebih. Tidak sekadar membuat kurikulum yang pantas dengan metode paling mutakhir. 

Mampu memahami mental, emosi dan fisik si anak, menjadi faktor dalam memberikan pendidikan bagi anak kebutuhan khusus.

Untuk itu ujar Teguh, pengajarnya pun wajib memiliki kompetensi yang khusus juga. Pelayanan dan cara mendidikanya pun khusus.

“Harapannya agar anak-anak berkebutuhan khusus ini dapat diterima di masyarakat,” ucapnya kepada Bulungan Post, Sabtu (21/7).

Ia mengatakan, pemerintah saat ini telah mendirikan empat sekolah luar biasa (SLB). Agar, anak-anak berkebutuhan khusus tersebut mendapat pendidikan yang sama berdasarkan jenjang umur.

Namun, Teguh cukup sadar bahwa masih ada kekurangan pada SLB yang dimiliki saat ini. Ia menjelaskan, hanya SLB Tarakan saja yang memiliki fasilitas lengkap. Termasuk ruang terapi sebagai kebutuhan untuk menangani anak berkebutuhan khusus. 

“SLB di Tarakan menjadi rujukan untuk tiga SLB lainnya. Fasilitasnya sudah dilengkapi dengan ruang terapi. Sedangkan SLB yang ada di Bulungan, masih belum ada ruang terapi,” ucapnya.

Terkait tenaga pengajar diakuinya juga masih kurang. Minat untuk menjadi guru di SLB terang Teguh sangat minim. Hanya segelintir orang saja yang mau menjadi guru bagi anak-anak yang secara fisik dan mental berbeda jauh dengan anak normal.

Tidak hanya soal tenaga pengajar ternyata yang turut menjadi masalah. Kurangnya kesadaran orangtua yang anaknya berkebutuhan khusus untuk menyekolahkan ke SLB pun minim. Hal itu disampaikan Kepala SLB Bulungan, Junaidi. 

Ia mengatakan, orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar bisa mendaftarkan anaknya ke SLB. Atau kepada masyarakat yang peduli kepada anak-anak berkebutuhan khusus bisa menginformasikan kepada SLB. 

“Agar anak-anak tersebut bisa mendapatkan pendidikan dan terapi dari tenaga yang terlatih” singkat Junaidin.

Nyatanya, penanganan kepada anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan pun ada yang belum mendapatkan. Nurhayati, warga RT 09, Jalan Hasanudin, Tanjung Selor mengaku, kedua anaknya yang masing-masing berusia 17 dan 11 tahun belum mendapat pendidikan. Hanya karena berbeda.

Ibu paro baya ini berharap uluran tangan pemerintah, agar kedua anaknya yang berbeda itu mendapat pendidikan. Layaknya anak-anak normal lainnya.

“Dua anak saya ini begini keadaannya. Mereka berdua tidak sekolah dan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah,” aku perempuan yang nyaris putus asa itu.

“Kami harap anak kami ini bisa sekolah dan mendapatkan terapi khusus,” harapnya.

Pendidikan anak berkebutuhan khusus bukan hanya jadi tanggung jawab pemerintah. Seluruh elemen masyarakat memiliki kewajiban untuk bisa mengentaskan persoalan ini. 

Orangtua anak berkebutuhan khusus pun diharapkan lebih terbuka dan mau menginformasikan keberadaan anggota keluarganya. (*/rio) 


BACA JUGA

Selasa, 26 Maret 2019 13:15

Polisi Tunggu BB Celana Dalam

TANJUNG SELOR – Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan…

Senin, 25 Maret 2019 12:50

‘Cantik-Cantik’ Nyolong Motor

TARAKAN – Nur Aini (31), harus berurusan dengan polisi karena…

Senin, 25 Maret 2019 11:57

Gelar Sayembara, Undang Warga Ikut Coffee Morning

Media sosial menjadi salah satu sarana yang dipilih Pemkot Tarakan…

Senin, 25 Maret 2019 11:54

Peringatan Tak Mempan, Pengetap BBM Diancam Pidana 3 Tahun Penjara

TANJUNG SELOR – Tiga unit mobil dengan tangki modifikasi, diamankan…

Minggu, 24 Maret 2019 14:59

Rumah Warga Dihantam Longsor

TARAKAN – Tanah longsor dan banjir masih menjadi persoalan serius…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:10

Besok Ditarget Normal

Pemadaman listrik yang terjadi di Kota Tarakan dan Tanjung Selor,…

Sabtu, 23 Maret 2019 13:07

Pembangkit PT SAS Mati Total

TANJUNG SELOR - Pemadaman listrik bergilir untuk wilayah Tanjung Selor…

Jumat, 22 Maret 2019 14:20

Kerja Sama Indonesia – RRT, PLTA Kayan Masuk Prioritas

NUSA DUA – Kerja sama antara Indonesia dengan Republik Rakyat…

Jumat, 22 Maret 2019 14:17

Kapolda: Almarhum adalah Pahlawan Bangsa

Lagu gugur bunga mengiringi keberangkatan jenazah almarhum Bharatu Anumerta Muhammad…

Jumat, 22 Maret 2019 14:13

Hantam Orang Menyeberang Jalan, Nyawa Mahasiswi Melayang

TANJUNG SELOR - Nasib nahas menimpa Reka (19), warga Jalan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*