MANAGED BY:
SABTU
19 JANUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

EKONOMI

Rabu, 19 September 2018 14:30
Penggunaan Ringgit di Sebatik Menurun

PROKAL.CO, PENGUNAAN mata uang asing berupa ringgit Malaysia, masih jadi permasalahan di wilayah perbatasan Kaltara, khususnya di Sebatik, Kabupaten Nunukan. Bahkan, masyarakat di daerah tersebut masih menggunakan mata uang ganda dalam aktivitas ekonomi.

Peredaran mata uang ringgit di perbatasan Indonesia dengan Malaysia pun diakui pihak Bank Indonesia (BI). Namun, peredaran tersebut sudah tidak banyak seperti tahun sebelumnya. Hasil survei yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara, penggunaan uang ringgit perlahan-lahan menurun.

“Sebelumnya perbandingannya 70-30 persen. Dengan 70 persen rupiah dan sisanya ringgit,” jelas Kepala Unit Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Kaltara, Dhika Arya Perdana.

Diakuinya, penggunaan rupiah naik hingga 8 persen. Dimana rupiah 78 persen dan penggunaan ringgit 22 persen. Peningkatan penggunaan uang rupiah di perbatasan, tidak terlepas dari upaya pemerintah termasuk sosialisasi BI selama ini.

Rata-rata tim dari BI Kaltara turun ke lapangan hingga dua kali dalam satu bulan. “Sejak Januari hingga September tahun ini saja, sudah 35 kali tim kami ke sana (Sebatik),” sebutnya.

Ketika berada di lapangan, selain sosialisasi juga memberikan kesempatan terhadap masyarakat untuk tukar uang dari ringgit ke rupiah.

Meski warga yang bersangkutan bukan nasabah dari salah satu bank yang ada. BI telah menginstruksikan agar melayani masyarakat jika menukar uangnya. "Kami dari BI sudah hampir Rp 20 miliar sejauh ini. Ke depan kami juga canangkan gerakan cinta rupiah di Sebatik. Tentu dua sampai tiga tahun ini kami terus sosialisasi,” ungkapnya.

Disinggung terkait daerah perbatasan lainnya, seperti Lumbis Ogong, Krayan, Apau Kayan dan Sei Menggaris, kata dia, timnya selama ini fokus di Sebatik. Tapi dari pantauan timnya, daerah lain tidak separah Sebatik, meski ada warga Indonesia yang bertransaksi menggunakan ringgit.

“Di Krayan tak sepelik dengan persoalan yang ada Sebatik, termasuk di Nunukan. Di sana (Krayan, Red) hanya karena kebutuhan pokok yang sebagian dipenuhi oleh negara tetangga," ujarnya.

Transaksi mata uang asing di luar Indonesia, tidak menjadi masalah. Namun tetap menjadi pekerjaan juga, sebagaimana koordinasi antara BI dengan Biro Perbatasan. Agar kebutuhan pokok warga di perbatasan dapat dipenuhi. (uno/rio)


BACA JUGA

Selasa, 24 November 2015 18:39

Pasar Tenguyun jadi Lautan Sahabat Pejuang

<p><strong>TARAKAN &ndash;</strong> Setelah sukses menggelar jalan sehat santai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*