MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Rabu, 12 Desember 2018 09:56
Rencana Penutupan Lokalisasi, Pemkot Di-deadline hingga Akhir Tahun

PROKAL.CO, TARAKAN – Belum ada tanda-tanda akan ditutupnya lokalisasi di Tarakan, kembali disikapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan dan ormas Islam, dengan menggelar pertemuan, Senin (10/12).

Dari hasil pertemuan yang berlangsung di Sekretariat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Tarakan, itu Pemkot Tarakan didesak untuk segera merealisasikan penutupan lokalisasi paling lambat akhir tahun ini.

“Kami tetap mendesak kepada pemerintah untuk menutup dua lokalisasi yang di Karang Agas dan Sungai Bengawan paling lambat tanggal 31 Desember 2018,” ujar Wakil Ketua MUI Tarakan Syamsi Sarman, Selasa (11/12).

Menurut pria yang juga Ketua PP Muhammadiyah Kalimantan Utara ini, jika melihat kondisi di lapangan, Pemkot Tarakan kurang serius dalam merespons tuntutan penutupan lokalisasi, meskipun sudah didesak. Sebab, informasi yang diperolehnya, sampai kemarin pihak pengelola lokalisasi justru belum mendapatkan sosialisasi dari Pemkot Tarakan terkait rencana penutupan. Hanya mengetahui rencana penutupan media.

“Kalau dari versi kami seperti itu. Kami kan membayangkan satu minggu ini setelah kami hearing dengan DPRD, yang kami bayangkan adalah informasi sudah ke Karang Agas, ke Sungai Bengawan, ada sosialisasi. Kan timnya sudah dibentuk kata Pak Asisten I yang mewakili Wali Kota waktu itu. Sudah ditandatangani Pak Wali. Paling tidak timnya kan sudah jalan,” ujarnya.

“Ternyata satu minggu kita tunggu di lokalisasi tidak ada informasi apa pun. Jadi, saya anggap pemerintah terlalu lambat,” sambung Syamsi.

Jika yang jadi persoalan adalah anggaran, pihaknya bersedia membantu mencarikan sumbangan melalui penggalangan dana di masjid maupun melakukan aksi di jalan.

Hasil pengumpulan dana tersebut nantinya diserahkan sepenuhnya kepada Pemkot Tarakan sebagai biaya operasional memulangkan pekerja seks komersial (PSK).

“Kami memandang PSK itu bukan musuh. Kami memandang mereka adalah saudara kami yang akan kami bina, yang akan kami bantu. Jadi, kalau uangnya banyak, kami juga akan berikan kepada mereka sebanyak-banyaknya supaya mereka bisa melakukan kegiatan yang lebih baik setelah penutupan itu,” tuturnya.

Berdasarkan pantauan media ini di lokalisasi Karang Agas, kemarin, salah satu lokalisasi tertua di Tarakan itu masih beroperasi. Bahkan, pekerja di lokalisasi itu mengaku belum ada sosialisasi penutupan.

“Belum ada yang datang kesini. Belum ada. Karena saya di sini terus, hari Senin sampai Jumat saya di sini,” ujar salah seorang pekerja di lokalisasi Karang Agas.

Dia menyebutkan, ada 26 wanita penjaja birahi yang bekerja di lokalisasi Karang Agas, dengan usia di atas 30 tahun dan berasal dari luar Tarakan. Secara pribadi, dia tidak mempermasalahkan jika tempatnya meraup rupiah ditutup. Namun, ada sosialisasi dan pembinaan yang dilakukan oleh Pemkot Tarakan untuk mempersiapkan diri mencari penghidupan lain.

“Mau keterampilan apa dipelajari dulu supaya bisa dapat bekal ilmu. Kalau yang suka masak belajarlah keterampilan memasak, kalau yang dulu-dulu suka menjahit, kasihlah bagaimana caranya supaya bisa menjahit, mau adanya salon dia belajar salon, kan untuk bekal ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, ketua RT 12 Kelurahan Gunung Lingkas, Jeksen mendukung bila pemerintah akan menutup lokalisasi di daerahnya. Rencana ini bahkan sudah lama diinginkannya, karena bisa merusak generasi muda.

“Sebenarnya masyarakat di situ (sekitar Karang Agas) dari dulu sudah mengusulkan bahwa tidak layak. Entah dipindahkan kemana. Kalau saya welcome, mau ditutup lebih baik, karena berpengaruh ke anak, generasi-generasi kita ini,” ujar Jeksen.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Tarakan Adnan Hasan Galoeng mengakui belum ada tindak lanjut usai hearing dengan MUI dan ormas Islam, beberapa hari lalu. Dirinya pun belum diajak berkoordinasi lebih lanjut.

“Saya enggak tahu, karena itu kayaknya diambil alih dari pimpinan untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah kota dan seluruh stakeholder terkait masalah penutupan itu,” ujar Adnan, Senin (10/12).

Namun, Adnan menjamin bahwa pihaknya tetap mendukung ditutupnya lokalisasi. Hanya saja perlu dipikirkan dampak penutupan. Terutama wanita yang menjadi pekerja di lokalisasi. (mrs/fen)


BACA JUGA

Rabu, 16 Januari 2019 10:44

Tiga Calon DPD Lolos dari Sanksi

TARAKAN – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Tarakan memutuskan untuk…

Rabu, 16 Januari 2019 10:37

Parpol Ditagih LPj Bankeu

TARAKAN – Waktu bagi partai politik (Parpol) penerima bantuan keuangan…

Rabu, 16 Januari 2019 10:24

5 Tahun Gagal Persembahkan Adipura, Sofian Tak Merasa Kecewa

TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan di bawah kepempimpinan Sofian Raga…

Selasa, 15 Januari 2019 12:57

Waspada, Pelaku Pencurian Berkeliaran

TARAKAN – Polres Tarakan berhasil mengungkap 5 kasus pencurian yang…

Senin, 14 Januari 2019 11:44

Pos Laut Terpadu Tak Masuk Prioritas

TARAKAN – Harapan Pemkot Tarakan mendapatkan bantuan pemerintah pusat untuk…

Senin, 14 Januari 2019 11:43

Nasib Tiga Calon DPD Ditentukan Pekan Ini

TARAKAN – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Tarakan segera mengambil…

Sabtu, 12 Januari 2019 10:58

Pengalihan Panti Sosial Belum Jelas

TARAKAN – Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,…

Sabtu, 12 Januari 2019 10:53

Alokasi untuk Pemberdayaan Dibatasi

TARAKAN – Setelah mendapatkan kepastian penyaluran dana kelurahan dari pemerintah…

Jumat, 11 Januari 2019 11:22

Palsukan Surat Rekomendasi untuk Dapatkan BBM, Polres Bakal Telusuri

TARAKAN – Fakta terbaru terungkap pada pertemuan yang digelar Polres…

Jumat, 11 Januari 2019 11:19

ALHAMDULILLAH..!! Wilayah Kumuh Kaltara Menyusut

TARAKAN – Luas permukiman kumuh di Kalimantan Utara sudah mulai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*