MANAGED BY:
JUMAT
21 JUNI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Selasa, 18 Desember 2018 11:02
Ketua KPU Balas Kritikan Kotak Suara Kardus

Dipastikan Sudah Melalui Pertimbangan

SUDAH TIBA: Ketua KPU Tarakan Teguh Dwi Subagyo memperlihatkan kotak suara kardus dengan tambahan mika transparan, kemarin (17/12)

PROKAL.CO, TARAKAN – Kritikan penggunaan kotak suara dari kardus menjadi topik yang sedang tren di masyarakat maupun pembahasan di media sosial, beberapa hari belakangan.

Ada yang menilai bahwa kotak suara kardus tidak seharusnya digunakan. Selain kotak suara yang terbuat dari aluminium dinilai masih layak, kotak suara kardus pun dianggap lebih cepat rusak. Kejadian di Kabupaten Badung, Bali, misalnya. Ribuan kotak suara kardus di kabupaten itu rusak karena banjir. Padahal, KPU menyatakan bahwa kotak suara kardus kedap air.

Namun, kekhawatiran masyarakat dinilai Ketua KPU Tarakan Teguh Dwi Subagyo terlalu berlebihan. “Kalau karena takut banjir dan sebagainya, lalu rusak, apakah kita harus berpikir kalau begitu surat suaranya pakai alumunium, formulirnya pakai alumunium? Kan enggak efektif dan enggak efisien. Artinya, ketakutan, fobia yang menurut saya berlebihan,” ujarnya, Senin (17/12).

Menurut Teguh, penggunaan kardus tentu sudah melalui kajian dari KPU Pusat, baik dari sisi hukum maupun teknis, serta telah teruji dari segi pengalaman. Dari aspek hukum, dia mengatakan bahwa penggunaan kardus perintah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang mengamanatkan kotak suara pemilu harus dibuat transparan. Dalam bentuk fisiknya kotak suara kardus ditambahkan mika agar bisa dilihat dari luar.

“Ada satu sisi yang ada plastik mikanya sehingga kelihatan,” ujarnya.

Penyusunan dasar hukum pembuatan kotak suara berbahan kardus, baik undang-undang maupun peraturan KPU, kata dia, juga sudah melalui pembahasan bersama pemerintah pusat dan DPR RI. Hingga saat ini tidak ada protes dari eksekutif maupun legislatif.

“Artinya enggak ada masalah dari aspek hukum,” tegasnya.

Dari sisi teknis, Teguh menilai KPU Pusat pasti sudah mempertimbangan merancang suatu bahan yang akan digunakan untuk pemilu, dengan konsekuensi hukum cukup penting. “Pasti KPU melakukan telaahan studi yang benar, dengan melibatkan pakarnya di dalam hal ini secara teknis. Dan, mungkin Anda tidak paham secara teknis. Maka inilah hasilnya,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, penggunaan kotak suara dari kardus sudah digunakan pada pilkada 2017 dan 2018. “Tidak ada maslah. Artinya kan ada pengalaman sudah. Aspek hukum oke, teknis aman, pengalaman sudah dibuktikan,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kotak suara kardus yang rusak terkena banjir, menurutnya, itu kondisi force majeure. Dengan kondisi seperti itu, meskipun mengunakan kotak alumunium, tidak menjamin isi di dalamnya akan aman dari air. Karena surat suara terbuat dari kertas.

Sedangkan dari potensi kecurangan, Teguh menilai penggunaan kotak suara kardus dengan alumunium tidak ada bedanya, meskipun kotak suara kardus lebih mudah rusak. Semua tergantung pada penerapan sistem keamanan dan integritas penyelenggara pemilu. Namun, kata dia, potensi kecurangan yang dilakukan saat pemilu pun sangat kecil, karena rekapitulasi surat suara dilakukan sampai ke tingkat atas.

Dicontohkan, di tempat pemungutan suara (TPS) mungkin lolos satu kasus atau dua kasus. Tapi ketika dilakukan rekapilutasi tingkat PPK, dia yakin pasti akan ketahuan, karena masing-masing saksi memegang hasilnya. Yang terjadi di Tarakan, menurutnya bukan disebabkan kecurangan, melainkan kesalahan teknis maupun masalah profesionalisme yang biasanya berhubungan dengan data pemilih.

“Kalau masalah perolehan suara relatif tidak pernah terjadi,” yakinnya.

Namun di balik kekhawatiran masyarakat, dia mengatakan, itu bukti kepedulian masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu. Pihaknya pun sudah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

“Contohnya, membungkus dengan plastik jika harus mengirim melalui air. Misalnya, kalau mengirim dengan truk, terpalnya harus bagus dan sebagainya,” ujarnya.

Membungkus kotak suara kardus dengan plastik, menurutnya lebih aman dibandingkan kotak alumunium. Karena potensi robeknya plastik lebih kecil jika dibandingkan alumunium yang mudah merobek plastik. “Jadi, artinya tidak ada yang dirugikan dari sisi apa pun. Dari sisi teknis, hukum maupun finansial, bahkan dari sisi finansial dengan kardus itu jauh lebih hemat,” ujarnya. (mrs/fen)


BACA JUGA

Kamis, 19 November 2015 18:03

Penghitungan Suara Gunakan Sistem Online

<p><strong>TANJUNG SELOR</strong> &ndash; Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Utara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*