MANAGED BY:
SELASA
19 FEBRUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Sabtu, 05 Januari 2019 11:05
Sandiaga Jadi Tempat Curhat
SAFARI POLITIK: Calon wapres Sandiaga Uno mengunjungi potensi sektor perikanan dan kelautan di Tarakan, Jumat (4/1).

PROKAL.CO, TARAKAN – Kalimantan Utara, tak luput dari safari politik calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno. Jumat (4/1), pria yang akrab disapa Sandi itu menginjakkan kakinya di Kota Tarakan.

Tiba di daerah penghasil minyak dan gas itu, Sandi menuju sebuah warung kopi fenomenal di Tarakan: Warung Kopi Indra (Aseng). Dan, bertemu dengan kaum milenial. Setelah itu, Sandi mengunjungi tempat pembelian udang dan kepiting, serta melihat budidaya rumput laut.

Kehadiran Sandi pun menjadi ajang curhat para pembudidaya, baik udang maupun rumput laut. Seperti ketika berkunjung ke tempat pembelian udang di kawasan Jembatan Bongkok, Kelurahan Karang Anyar Pantai.

Di tempat itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalimantan Utara Muhammad Nurhasan menyampaikan bahwa di provinsi ke-34 ini memiliki potensi budidaya tambak udang.

“Di Kaltara ini ada 140 ribu hektare (tambak). Tapi hasilnya sangat minim. Di sini hanya 600 ton per bulan,” ujarnya kepada Sandi.

Yang jadi penyebab, kata dia, pengelolaan tambak yang masih menggunakan metode tradisional. Selain itu, kendala bibit udang, serta faktor alam juga ikut memengaruhi kuantitas hasil tambak Kaltara.

Dia juga menyampaikan bahwa 99 persen hasil budidaya tambak di Kaltara menjadi komoditas ekspor. Tidak hanya udang windu, tapi juga kepiting tambak maupun ikan bandeng. Usaha budidaya tambak, lanjutnya, juga ikut menggerakan ekonomi Kaltara, khususnya Tarakan yang menurut Nurhasan, hampir setengah penduduknya menggantungkan kehidupan pada hasil perikanan dan kelautan.

Selain itu, Nurhasan juga menyampaikan soal aturan larangan penjualan kepiting bertelur (kecuali Desember hingga Februari). Menurutnya, aturan tersebut kurang mendukung usaha budidaya kepiting yang dilakukan petambak. Padahal, kata dia, nilai jual kepiting bertelur cukup mahal. Mencapai Rp 300 ribu per kilogram.

Sementara itu, pembudidaya rumput laut mengeluhkan harga yang terus turun. Seperti disampaikan Sukirman, pembudidaya rumput laut di Pantai Amal, sejak dirinya melakukan budidaya rumput laut pada 2010 lalu, harga rumput laut masih Rp 18 ribu. Namun, pada 2012 menjadi Rp 13 ribu atau turun Rp 5.000.

“Kalau rumput laut naik, paling naiknya Rp 200. Tapi kalau turun Rp 1.000. Sementara, perlengkapan seperti tali itu tidak pernah turun (harga),” ujarnya.

Kendala lain yang dihadapinya adalah permodalan yang menurutnya belum disentuh oleh pemerintah. Karena selama ini modal untuk menggeluti usaha budidaya rumput laut melalui pinjaman dari pengepul. Sehingga, hasilnya terpaksa dijual ke pengepul, meski dengan harga murah.

Sulitnya pemasaran dan pembuatan kemasan yang baik terhadap produk yang diolah dari rumput laut, menjadi keluhan Elis. Padahal, kata dia, olahan rumput laut yang diproduksi mampu menghasilkan belasan jenis produk kuliner dan lain-lain. Bahkan, dirinya sudah mengajak petani rumput laut agar hasil panen dibuat usaha olahan daripada dijual murah ke pengepul.

Menyikapi keluhan yang disampaikan oleh warga Tarakan, Sandi mengatakan, hasil perikanan dan kelautan di Kaltara bisa menjadi tulang punggung perekonomian, karena memiliki potensi yang berlimpah. Bahkan, dirinya sangat setuju ketika Kaltara dijadikan sentra budidaya udang windu. Karena memiliki areal tambak yang luas.

Keluhan soal aturan larangan penjualan kepiting bertelur, menurutnya, akan menjadi masukan bagi dirinya. “Kita cari solusinya yang ikut memperhatikan keluhan dari para petambak di sini, apakah perlu waktunya diperpanjang, dan untuk kepiting yang di tambak kan hasil budidaya. Ini diperbolehkan untuk di ekspor, baik yang betina maupun yang jantan,” ujarnya.

Dia juga setuju jika hasil panen rumput laut di Tarakan memiliki produk hilir untuk mengatasi persoalan harga. “Bagaimana harga (rumput laut) ini stabil? Kita bisa buat home industri. Kita bisa buat untuk kuliner maupun untuk sabun,” ujarnya.

Sandi juga berharap usaha olahan rumput laut ini terus diperhatikan oleh pemerintah. Karena industri rumahan merupakan salah satu penggerak ekonomi kerakyatan melalui usaha mikro kecil dan menengah. (mrs/fen)


BACA JUGA

Minggu, 22 November 2015 19:15

Perang Proksi Ancaman Warga Kaltara

<p style="text-align: justify;"><strong>TANJUNG SELOR</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*