MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Jumat, 11 Januari 2019 11:19
ALHAMDULILLAH..!! Wilayah Kumuh Kaltara Menyusut
Salah sudut kota di wilayah Kaltara.Dari luas wilayah permukiman kumuh yang belum tersentuh penanganan, Tarakan masih terbilang banyak, dengan luas mencapai 35,9 hektare. Disusul Malinau yang menyisakan 29 ha.

PROKAL.CO, class="p1">TARAKAN – Luas permukiman kumuh di Kalimantan Utara sudah mulai berkurang sejak ditangani Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), beberapa tahun belakangan.

Data Satker PKP, luas kawasan permukiman kumuh di Bumi Benuanta –sebutan Kalimantan Utara- yang sudah ditangani mencapai 146 hektare, dari total 186 hektare.

“Jadi, masih tersisa sekitar 40,1 hektare lagi,” ujar Kepala Satker PKP Muhammad Adil di Kantor Wali Kota Tarakan, Kamis (10/1).

Dari luas wilayah permukiman kumuh yang belum tersentuh penanganan, Tarakan masih terbilang banyak, dengan luas mencapai 35,9 hektare. Disusul Malinau yang menyisakan 29 hektare.

Sementara, Nunukan hanya menyisahakan 4,1 hektare. Sedangkan Bulungan belum masuk surat keputusan daerah penanganan kawasan kumuh. Sedangkan Kabupaten Tana Tidung (KTT) belum dilakukan penanganan sama sekali.

Disebutkan, khusus di Tarakan kawasan permukiman kumuh awalnya tersebar di 7 kelurahan yang notabene lebih banyak berada di kawasan pesisir. Seperti Selumit Pantai, Lingkas Ujung dan Mamburungan.

Penanganan kawasan kumuh dilakukan melalui berbagai kegiatan yang sesuai dengan 7 indikator. Yakni, pengelolaan persampahan, draninase lingkungan, proteksi kebakaran, bangunan gedung, jalan lingkungan, penyediaan air minum dan pengelolaan air limbah atau sanitasi.

“Kalau paling parah di Tarakan ini kan sanitasi kayaknya agak-agak berat,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, air limbah masyarakat yang bermukim di kawasan kumuh banyak dibuang langsung ke laut. Padahal, bisa berdampak kurang baik terhadap kesehatan manusia. Misal, kata dia, munculnya bakteri escherichia cole (E. coli) yang bisa menyebabkan seseorang menderita gagal ginjal.

“2019 kalau yang skala besar cuma di Karang Rejo. Ada dua. Mulai jalan lingkungan, ada sanitasinya juga, mungkin ada sedikit perbaikan wajah, disambung dengan mangrove itu,” ungkapnya soal penanganan kawasan kumuh di Tarakan. (mrs/fen) 


BACA JUGA

Selasa, 25 Juni 2019 13:29

Banyak Dikeluhkan, Sayangnya...Pemkot Tak Punya Uang

TARAKAN – Kerusakan di Jalan Aki Balak, tepatnya di depan…

Senin, 24 Juni 2019 17:03

2018, 38 Nyawa Melayang di Jalanan

TARAKAN – Kapolda Kaltara Brigjen Indrajit menyebut angka kecelakaan lalu…

Senin, 24 Juni 2019 16:56

Hari Ini Dimulai, Juknis PPDB Bakal Diubah

TARAKAN – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA/sederajat di…

Senin, 24 Juni 2019 16:51

KPU Kaltara Ajukan Rp 147 Miliar

TARAKAN – Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kalimantan Utara yang…

Minggu, 23 Juni 2019 13:59

Tarakan Kekurangan 11 Dokter Umum

PELAYANAN kesehatan di puskesmas terkendala dengan kurangnya dokter umum dan…

Minggu, 23 Juni 2019 13:58

Pengantar dan Penjemput Dikenakan Tarif

TARAKAN – PT Pelindo IV Cabang Tarakan memberlakukan e-pass bagi…

Sabtu, 22 Juni 2019 15:31

Arus Mudik dan Balik Lebaran Turun 2,8 Persen

TARAKAN – Meksipun cuti lebaran tahun ini cukup panjang, tidak…

Jumat, 21 Juni 2019 16:56

Isi Data Kependudukan lewat Smartphone

TARAKAN – Sensus penduduk akan dilaksanakan pada 2020 mendatang. Badan…

Jumat, 21 Juni 2019 16:52

Baru Dua Daerah Terapkan TTE

TARAKAN – Layanan pembuatan dokumen administrasi kependudukan dengan memanfaatkan teknologi…

Kamis, 20 Juni 2019 14:45

Pemkot Janji Beri Santunan

TARAKAN – Pemkot Tarakan menyanggupi pemberian santunan bagi korban kebakaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*