MANAGED BY:
SENIN
18 FEBRUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Kamis, 24 Januari 2019 13:09
2018, 4 Penderita DBD Meninggal

Subono: Akibat Kurang Memahami Gejala

Subono

PROKAL.CO, TARAKAN – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Tarakan dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Namun demikian, setiap tahun masih penderita yang meninggal dunia (MD).

Data yang diperoleh media ini dari Dinas Kesehatan Tarakan, 2016 lalu sebanyak 545 kasus. Sementara, di 2017 turun menjadi 177 kasus dan di 2018 hanya ditemukan 124 kasus. Sedangkan penderita yang meninggal dunia pada 2017 dan 2018 sebanyak 4 orang.

“Memang kita lihat 10 tahun terakhir angkanya berkisar lima, empat, lima, empat dari sisi jumlah kematian. Tapi kalau kasus sudah sangat jauh menurun,” ujar Kepala Diskes Tarakan Subono Samsudi, Senin (21/1).

Dengan masih adanya penderita DBD yang meninggal dunia, menurut Subono, menunjukkan bahwa masyarakat masih ada yang kurang mengetahui gejala demam berdarah. Sehingga, korban lambat mendapatkan penanganan medis.

“Kalau dari beberapa kasus biasanya memang keterlambatan dari keluarga. Misalnya, segera apakah ke puskesmas atau ke rumah sakit. Jadi, kadang-kadang mungkin dianggap sehat, dianggap panas biasa,” ujarnya.

Penderita DBD, kata Subono, merasakan gejala mendadak panas yang tinggi selama dua sampai tujuh hari, disertai muncul bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu, terasa nyeri pada perut. Terkadang juga terjadi pendarahan pada hidung atau mimisan, dan kadang-kadang disertai muntah atau buang air besar bercampur darah.

Dampak lainnya, sering terasa nyeri di ulu hati. Kalau kasusnya sudah parah, kata dia, penderita akan merasa gelisah yang ditandai tangan serta kaki dingin dan berkeringat.  

“Tapi yang utamanya tadi dari sisi panasnya. Kemudian bintik-bintik yang paling umum mudah dilihat. Harus segera waspada kalau ada gejala-gejala seperti itu,” ujarnya.

Sebagai daerah endemis, Subono menilai seluruh wilayah Tarakan sudah rawan DBD. Itu berdasarkan data yang dicatat pihaknya pada 2018 lalu, dimana Kelurahan Kampung Satu menjadi wilayah yang paling tinggi tingkat insidance rate (IR).

“Biasanya itu daerah pesisir. Kemudian nomor duanya Karang Balik,” sebutnya.

Upaya pencegahan penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti itu, kata Subono, yaitu gerakan 3M (menguras, menutup, mengubur), pembagian bubuk abate hingga fogging atau pengasapan. (mrs/fen)


BACA JUGA

Minggu, 22 November 2015 19:15

Perang Proksi Ancaman Warga Kaltara

<p style="text-align: justify;"><strong>TANJUNG SELOR</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*