MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Jumat, 03 Mei 2019 14:19
Beralaskan Tanah, Ruang Kelas Sering Dikira Kandang Ternak

Menengok Aktivitas Belajar di Kelas Filial SDN 006 Sekatak Bengara

MENIKMATI KETERBATASAN: Tania Ipat ketika memberikan pelajaran di kelas yang hanya dihadiri dua anak didiknya, Jumat (26/4)

PROKAL.CO, Mengenyam pendidikan merupakan hak setiap anak bangsa. Bahkan perjuangan agar anak-anak Indonesia bisa mendapatkan pendidikan sudah dimulai sejak zaman penjajahan. Kala Ki Hajar Dewantara menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa bersekolah.

 

AGUS PRASETYO, Sekatak

 

Suaranya sedikit nyaring terdengar di antara dua anak didik yang berada di dalam kelas. Ruang kelas yang sangat-sangat sederhana. Atau malah boleh dikatakan tidak layak disebut sebagai ruang kelas.

Di ruangan kayu beralas tanah itu, Tania Ipat, mengabdikan diri sebagai pendidik di kelas filial SDN 006 Sekatak Bengara, Bulungan. Bersama satu rekan guru lainnya, Tania tetap setia mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak di desa tersebut.

Di ruang kelas berukuran sekitar 4x4 meter persegi tersebut, hanya memiliki fasilitas satu papan tulis, satu meja guru, serta dua meja kursi dari kayu, yang dibuat oleh masyarakat setempat. Murid yang bersekolah juga tidak pernah tetap. Terkadang hanya dua orang, seperti saat Rakyat Kaltara mengunjunginya, Jumat (26/4) lalu. Tapi terkadang jumlah murid yang datang bisa sampai 6 orang. Jika semua murid hadir, maka satu bangku terpaksa digunakan tiga murid yang duduk berhimpitan.

Ruang kelas beratap seng tersebut, juga digunakan untuk kegiatan belajar tiga kelas. Yakni kelas 1 hingga kelas 3. “Bangunan sekolah yang sederhana ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat di sini,” ujar Tania kepada Rakyat Kaltara.

Walau kondisinya bisa dikata belum layak, namun ruang kelas tersebut sudah jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Karena awal dibangun, ruang kelas tersebut hanya menggunakan atap daun.

“Dulu lebih memprihatinkan lagi, karena atap hanya beralaskan daun. Kalau sudah hujan lebat, terlempar daunnya karena angin,” ungkapnya.

Satu hal yang membuatnya hingga sekitar 6 tahun bisa bertahan mengajar di sekolah tersebut, adalah rasa kepercayaan yang besar dari masyarakat setempat kepada dirinya, guna memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak mereka. Minimal bisa mengenal berhitung dan membaca.

“Masyarakat di sini juga menghibahkan tanahnya untuk bangunan sekolah ini. Kemudian mereka juga yang membangun sekolah secara swadaya,” terangnya.

Padahal, gaji yang diterimanya sebagai guru di kelas jauh tersebut bisa dikatakan cukup rendah. Hanya Rp 500 ribu. “Itupun paling cepat dibayar 3 bulan, paling lama 6 bulan,” tuturnya.

Hal yang cukup sulit dihadapinya selama ini, bukan disebabkan kondisi bangunan yang tidak layak. Namun bagaimana mengubah pola pikir masyarakat, terutama para orangtua anak didiknya, agar lebih mengutamakan pendidikan anaknya. Sebab, orangtua murid di sekolah tersebut, masih sering membiarkan anaknya tidak sekolah, karena harus dibawa serta ke dalam hutan untuk berladang. Itulah yang membuat jumlah kehadiran muridnya sangat rendah.

“Tapi perlahan-lahan terus saya kasih pengertian ke orangtua anak-anak ini bahwa pendidikan itu harus nomor satu,” terangnya.

Tantangan tersebut juga makin memotivasi gadis berusia 23 tahun yang masih menempuh pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) di Universitas Terbuka (UT) Tanjung Selor itu untuk bertahan. Bahkan makin menikmati pengabdiannya.

“Yang lucu waktu pertama mengajar. Anak-anak ada yang manjat dinding, berbicaranya juga menggunakan bahasa daerah. Tapi itulah proses yang harus saya jalani. Seandainya mereka tidak sekolah, mungkin sampai sekarang tidak tahu berprilaku yang baik, karena itu juga kami ajarkan selain membaca dan menghitung,” ungkapnya.

Dirinya sangat berharap, kondisi bangunan sekolahnya bisa mendapat perhatian pemerintah, serta masyarakat di desa tersebut semakin tinggi kesadarannya untuk mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya.

“Meskipun keadaannya memprihatinkan, tapi mereka juga bisa kayak anak-anak yang belajar di sekolah lain. Karena fasilitas itu hanya alat pendukung, yang utama itu niat untuk belajarnya. Meski sekolah ini sering dikira kandang ternak, tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk mengabdikan diri untuk anak-anak,” pungkasnya. (*/udi)


BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 13:28

Bawa Sampel Ikan ke Surabaya

TARAKAN – Tim gabungan dari Balai Karantina Ikan dan Pengendalian…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:27

Hanya 55 Bidang Penuhi Syarat

TANJUNG SELOR – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara mengusulkan…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:25

Puluhan Ribu Warga Tarakan Bakal Tak Dibantu BPJS Kesehatan Lagi

TARAKAN – Masyarakat Kalimantan Utara terkena imbas dari kebijakan pemerintah…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:24

Rp 4,3 Miliar PBBKB Diselamatkan

TANJUNG SELOR - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kaltara…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:24

Penghuninya Ribuan, Usulan Lapas Tak Kunjung Direspons

TANJUNG SELOR – Usulan penambahan lembaga pemasyarakatan atau lapas di…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:23

Pengadaan dan Perizinan Rawan Praktik Korupsi

TARAKAN – Pengadaan barang dan jasa, serta perizinan menjadi perhatian…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:22

September Diluncurkan

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) RI telah mengeluarkan Peraturan KPU (PKPU)…

Rabu, 21 Agustus 2019 21:03

Kurir asal Malaysia Diciduk di Sebatik

TANJUNG SELOR - Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Kaltara berhasil…

Rabu, 21 Agustus 2019 21:02

Loka POM Temukan Produk Palsu

TARAKAN – Penjualan produk kecantikan yang tidak layak edar tidak…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:57

Air Baku Mulai Menyusut

TARAKAN – Hujan yang jarang mengguyur Tarakan akhir-akhir ini, berimbas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*