MANAGED BY:
SENIN
14 OKTOBER
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Jumat, 05 Juli 2019 19:38
Kehilangan Mata Kanan, Harta Habis untuk Pengobatan

Kisah Pilu Iwan Setiawan, Korban Selamat Teror Bom Kuningan

BAGI PENGALAMAN: Iwan Setiawan, usai menjadi narasumber seminar bertema Perempuan Agen Perdamaian di Tarakan.

PROKAL.CO, class="p1">Aksi terorisme tidak hanya dilarang oleh agama, tapi juga menyisakan kenangan pilu bagi korbannya yang masih hidup. Salah satunya dialami Iwan Setiawan. 

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan

 

Aksi pengeboman di depan kantor Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004, atau yang dikenal dengan bom Kuningan, terus terbayang dalam benak Iwan Setiawan. 

Mengenakan baju batik berwarna biru kombinasi putih, merah, dan hitam, Iwan Setiawan hadir di Hotel Tarakan Plaza, Tarakan, setelah diundang Badan Penanggulangan Terorisme Nasional (BNPT) untuk menjadi salah satu narasumber dalam seminar bertema Perempuan Agen Perdamaian. 

Pria berusia 44 tahun tersebut berbagi pengalamannya. Iwan menjadi salah satu korban luka dalam peristiwa pengeboman di depan Kedubes Australia, 9 September 2004 lalu.

Dari jauh, fisik Iwan masih terlihat sempurna. Ia masih bisa berdiri tegak dan beraktivitas layaknya manusia normal. Namun, Iwan sebenarnya hanya bisa melihat dengan satu mata, setelah mata kanannya rusak, akibat serpihan bom yang mengenainya.  

Iwan ingat betul detik-detik terjadinya teror bom tersebut. Kepada Rakyat Kaltara, dia bercerita apa yang dilakukannya sebelum bom itu meledak, hingga berdampak kepadanya. 

“Pada waktu itu, 9 September 2004, tepatnya jam 09.45 Wita, saya bersama almarhum istri, berboncengan naik sepeda motor. Saya ingin mengantarkan istri memeriksa kandungan di salah satu klinik di Manggarai,” terang pria yang telah dikaruniai dua anak ini. 

Tidak seperti sebelumnya, ketika itu Iwan berinisiatif melalui Jalan H Rasuna Said untuk menuju klinik. Padahal biasanya, Iwan justru melalui jalan di belakang yang tidak rawan macet dan lebih nyaman untuk dilalui.  

Belum sampai di klinik yang dituju, tiba-tiba bom meledak tepat di depan Kedubes Australia. Iwan bersama istrinya ketika itu, sebenarnya berada agak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP). Diperkirakannya sekitar 200 meter. Namun, daya ledak bom yang begitu besar, membuat dirinya dan istri terlempar dari sepeda motor yang ditunggangi. Namun Iwan dan istrinya masih bisa bangkit. 

Bersama istrinya, Iwan berjuang dengan tenaga yang tersisa menuju tempat yang lebih aman. Ketika itu, tidak ada yang membantunya karena masing-masing orang selamat, juga harus menyelamatkan diri. 

Iwan bangkit dengan luka di lengan karena serpihan kaca. Yang lebih parah, mata kanannya rusak dan berdarah karena terkenal proyektil bom. 

“Jadi bola mata itu keluar, pecah, tapi proyektil bom itu masuk, nancap, dan kondisi waktu itu pijar atau bara,” bebernya.   

Luka yang dialaminya dinilai tidak lebih parah dibandingkan istrinya yang mengalami patah tulang di tangan, kaki, dan punggung. Di pelipis mata istrinya, juga tertancap pecahan kaca.

Setelah sampai di tempat aman, Iwan dan istri dievakuasi ke rumah sakit TNI. Namun, malam harinya, sang istri dirujuk ke rumah sakit lain karena mengalami kontraksi dan akan melahirkan. 

Bersyukur, di tengah kondisi luka parah, istrinya masih bisa melahirkan anak keduanya dengan proses normal. “Padahal istri itu kata dokter sudah tidak mungkin lahirnya dengan normal,” tuturnya.

Belum sembuh total dari luka yang dialaminya dan proses persalinan, istrinya justru minta pulang karena khawatir akan kondisi Iwan. Padahal kondisi suaminya tidak terlalu parah dibandingkan dirinya.

Istrinya pun hanya bertahan dua hari di rumah sakit setelah diizinkan pulang. Namun dengan konsekuensi pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Setelah keluar dari rumah sakit, istrinya hanya melakukan rawat jalan. Di sisi lain, karena biaya pengobatan yang ditanggung sendiri, Iwan terpaksa menjual rumahnya untuk biaya pengobatan istrinya. “Kalau dulu kan belum ada BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial),” terangnya.   

Hingga dua tahun setelah peristiwa memilukan itu terjadi, istrinya meninggal dunia. “Meninggal, efek dampak dari bom, infeksi,” sambungnya. 

Aksi terorisme itu telah berdampak pada kehidupan Iwan. Tidak hanya kehilangan mata kanan dan istrinya, harta hingga pekerjaan juga turut dikorbankannya. Sebelum peristiwa itu, Iwan merupakan pegawai salah satu bank swasta dengan karier yang cukup bagus. “Waktu itu posisinya sudah karyawan tetap,” tuturnya. 

Seiring waktu berjalan, Iwan bisa melewatinya. Sebagai umat muslim, dia menanamkan sikap ikhlas terhadap apa yang dialaminya. “Saya harus menyadari bahwa ini adalah sebuah takdir. Itulah pemulihan yang ampuh dan mujarab buat saya,” tuturnya. Selain menerima dengan ikhlas, Iwan juga telah memaafkan orang-orang yang telah membuat hidupnya pilu. 

Kini Iwan sudah bisa beraktivitas seperti dulu. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Iwan berwirausaha dengan membuka jasa perbaikan komputer. Selain itu, dia juga kerap diundang menjadi narasumber kegiatan seminar bertema terorisme.

Hanya saja, mata kanannya sudah tidak bisa melihat meski telah memasang mata palsu. Menurutnya, setiap dua atau tiga tahun, dia harus mengganti mata palsunya dengan yang baru. (*/udi)


BACA JUGA

Minggu, 13 Oktober 2019 17:53

Deteksi Jarak Kendaraan dan Pengontrol CO

SMA 1 Tarakan tak pernah habis dalam ‘memproduksi’ pelajar berprestasi.…

Minggu, 13 Oktober 2019 17:45

Irianto Kembalikan Formulir ke NasDem

TARAKAN – Irianto Lambrie, terus menunjukkan keseriusannya untuk maju kembali…

Minggu, 13 Oktober 2019 17:43

Anggaran Pengawasan, Bulungan dan KTT Masih Alot

TANJUNG SELOR – Setelah melalui proses pembahasan, Badan Pengawas Pemilu…

Sabtu, 12 Oktober 2019 17:24

Irianto Siap Ikuti Proses

TANJUNG SELOR – Keseriusan maju di Pilgub Kaltara lewat jalur…

Sabtu, 12 Oktober 2019 17:21

Tak Masalah Kasus Klien Dilimpahkan

TARAKAN – Pelimpahan kasus dugaan korupsi pengadaan lahan di Kelurahan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 13:48

Pembuang Bayi Masih Misterius

TANJUNG SELOR – Pelaku pembuang bayi perempuan di kawasan Sabanar…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:46

Tak Pasang Target Berlebihan, Irianto Daftar ke PAN

TARAKAN – Pendaftaran ke partai politik untuk mengikuti penjaringan bakal…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:42

229.286 Jiwa Akan Diberi Obat Filariasis, Hanya di Tiga Kabupaten

TANJUNG SELOR – Peringatan Bulan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Belkaga)…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:40

Perbaikan Jembatan Kayu di SP 3, Pemkab Bantah Pernah Diusulkan

TANJUNG SELOR – Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala mengaku dirinya…

Kamis, 10 Oktober 2019 18:01

Hanya Berharap Bantuan Pemprov

TANJUNG SELOR — Pemerintah Kabupaten Bulungan sepertinya mentok di angka…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*