MANAGED BY:
JUMAT
15 NOVEMBER
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Senin, 14 Oktober 2019 17:14
Harus Utamakan Verifikasi Agar Tak Terjebak Hoaks

Mengikuti Edukasi dan Media Gathering SKK Migas (1)

BAHAS PERAN MEDIA: Narasumber yang dihadirkan SKK Migas dalam kegiatan edukasi dan media gathering di Makassar, Selasa (8/10).

PROKAL.CO, class="p1">Sebanyak 46 awak media berkumpul di Makassar, Sulsel, 8-9 Oktober untuk mengikuti kegiatan edukasi dan media gathering yang dilaksanakan Satuan Kerja Khusus Minyak Bumi dan Gas (SKK Migas). Termasuk Harian Rakyat Kaltara.

 

MUHAMMAD RAJAB, Makassar

 

BERBAGAI persoalan dan tantangan industri migas maupun media menjadi pembahasan dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah narasumber, baik dari pimpinan media nasional, penggiat media sosial, hingga Dewan Pers.

 

“Kegiatan ini selain wadah silaturahmi, juga edukasi dan tempat kita berbagi informasi,” ujar Kepala SKK Migas Kalimantan-Sulawesi Syaifuddin saat membuka kegiatan yang bertema “Peran Media Dalam Membangun Opini Publik yang Positif bagi Industri Hulu Migas dan Peningkatan Peran Media Online Dalam Mendukung Kegiatan Hulu Migas” di Hotel Four Points Makassar, Selasa (8/10).

 

Dia juga mengatakan, peran media menyampaikan informasi sesuai fakta. Jika ada yang sesuatu yang harus diperbaiki dalam kegiatan industri migas, pihaknya siap melakukan perbaikan.

 

“Salah satu fungsi media itu kan tell the truth. Biar industri migas semakin baik ke depannya,” ujarnya.

 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Komunikonten Insitute Media Sosial dan Informasi Hariqo Wibawa Satria menjelaskan sejarah munculnya internet, termasuk kemunculan media sosial.

 

Menurutnya, internet pertama kali hadir di Amerika Serikat pada 1969. Di Indonesia, internet muncul mulai 1990. Kemunculan internet ditindaklanjuti dengan munculnya mesin pencari Google di Indonesia pada 1998.

 

Untuk media sosial Facebook pertama kali digunakan di Amerika Serikat pada 2004, yang kemudian berkembang hingga masuk ke Indonesia pada 2007. 

Di awal munculnya media sosial di Indonesia pada 2007, dia menyatakan penggunanya lebih menempatkan sebagai sarana untuk mencari kawan lama atau bernostalgia. Termasuk ketika masuk Instagram pada 2009. Kondusi dunia maya juga ketika itu dinilai masih kondusif.

 

"Waktu itu kita masih suka chatting di Facebook. Itu sebagai pengganti SMS, karena SMS mahal sekali," ujarnya.

 

Meskipun pada waktu itu ia amati sudah ada juga buzzer, namun konten yang disajikan masih aman, karena hanya dimanfaatkan untuk kepentingan berbisnis. Tapi belakangan ini, kata dia, peran media sosial mulai bergeser seperti Facebook yang banyak dimanfaatkan untuk hal-hal lain. Salah satunya, penyebaran isu politik, ujaran kebencian hingga penyebaran hoaks.

 

Dia juga mengatakan, internet dan media sosial kini menjadi salah satu sarana yang banyak dimanfaatkan masyarakat dunia untuk mendapatkan berita. Ia menyebutkan hasil survei di 38 negara mendapatkan data 55 persen dari 75 ribu responden khawatir dengan berita yang salah. Di sisi lain, responden tersebut juga tidak mau membayar berita yang berkualitas.

 

Dari jumlah itu, sumber berita paling banyak diperoleh responden dari WhatsApp dan Facebook. Ini menunjukkan betapa besarnya peran internet dan media sosial dalam menyajikan pemberitaan.

 

Karena itu, Ketua Komisi Pendataan dan Riset Dewan Pers Ahmad Djauhar Tas’an mengingatkan wartawan agar berhati-hati menggunakan informasi di media sosial.

 

Informasi di media sosial, kata dia, harus dibarengi dengan cek dan ricek terhadap kebenarannya, sebelum diberitakan. Karena, kata dia, jangan sampai wartawan atau media yang menerbitkan ikut terjerumus dalam penyebaran hoaks.

 

Dia melihat hal-hal seperti itu banyak terjadi, karena banyaknya media online yang hanya menomorsatukan kecepatan, dan mengambil sumber dari media sosial, serta mengabaikan kode etik jurnalistik.

 

“Informasi di media sosial itu jadikan bahan awal. Wartawan harus memverifikasi ke pihak-pihak yang terkait. Berita harus berbasis pada fakta yang diverifikasi,” ujarnya.

 

Pentingnya wartawan atau media massa melakukan verifikasi, dan melaksanakan tugas kewartawanan sesuai kode etik jurnalistik, kata dia, ketika ada sengketa pemberitaan Dewan Pers tetap menyelesaikan sesuai Undang-Undang Pers.

 

“Jadi media (massa, Red) tidak perlu khawatir belum terverifikasi. Yang Penting sesuai Undang-Undang Pers dan kode etik jurnalistik,” ujarnya. (*/bersambung/fen)


BACA JUGA

Kamis, 14 November 2019 19:50

Pemerintah Canangkan 2 Agenda Besar

BOGOR - Dalam lima tahun ke depan, ada 2 agenda…

Kamis, 14 November 2019 19:45

Hanya Daftar di Golkar

TANJUNG SELOR – Anggota DPRD Kaltara Syarwani merupakan salah satu…

Kamis, 14 November 2019 19:43

Akun Kepala ORI Kaltara Di-hack

TARAKAN – Akun media sosial Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI)…

Kamis, 14 November 2019 19:42

Gara-Gara Lamaran Kerja Ditolak dan Ingin Hijrah

Bagi penggemarnya, tato merupakan karya seni. Namun, tak sedikit juga…

Kamis, 14 November 2019 19:37

Tingkatkan Pengamanan

TARAKAN – Ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumatera…

Kamis, 14 November 2019 19:32

Optimistis 2020 Sudah Lengkap

TANJUNG SELOR – Lapangan terbang di sejumlah daerah perbatasan dan…

Selasa, 12 November 2019 14:36

Surat Lamaran Kelewat Rapi

MALANG - Setelah viral tulisan dokter yang rapi dan mudah…

Selasa, 12 November 2019 14:17

Utamakan Pendidikan, Tanamkan Agama dan Moral sejak Dini

Supriyadi dan Paryanti termasuk di antara 32 pasangan orang tua…

Selasa, 12 November 2019 14:15

Jalan di Perbatasan Harus Jadi Prioritas

TANJUNG SELOR – Pembangunan jalan maupun sarana pendidikan dan kesehatan…

Selasa, 12 November 2019 14:10

Pendaftaran CPNS Diundur

TANJUNG SELOR – Pendaftaran CPNS Pemprov Kaltara yang sebelumnya dijadwalkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*