MANAGED BY:
RABU
29 JANUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Selasa, 15 Oktober 2019 17:46
Nikmati Pesona Kebun Teh, Pohon Pinus dan Udara Dingin

Mengikuti Edukasi dan Media Gathering SKK Migas (2-Habis)

SPOT FOTO: Wisatawa mengabadikan momen di lokasi wisata Malino Highlands, Rabu (9/10).

PROKAL.CO,

Edukasi dan media gathering yang digelar SKK Migas bersama wartawan Kalimantan dan Sulawesi, 8-9 Oktober lalu, juga melakukan kegiatan di alam terbuka. Yakni, di Malino, Kabupaten Gowa, Sulsel.

 

MUHAMMAD RAJAB, Makasar

 

Wisata puncak dengan pesona hutan pinus, kebun teh dan dinginnya udara, tidak hanya ada Jawa Barat. Ada lokasi di Sulawesi Selatan yang juga menyajikan panorama alam serupa, indah dan memesona. Yaitu Malino.

Malino berada Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang menjadi tujuan kegiatan outbound.

Pagi hari sebelum berangkat ke Malino, sempat terbersit dalam hati untuk mengurungkan niat ikut kegiatan alam terbuka. Bukan tanpa alasan. Waktu seharian itu rencananya akan saya manfaatkan untuk menyelesaikan tugas wajib membuat berita untuk terbit pada Kamis (10/10).

Tapi, atas saran rekan kerja saya yang juga ikut dalam kegiatan tersebut, saya putuskan bergabung, meski ada tanggung jawab mengisi halaman di surat kabar tempat saya bekerja. Ditambah lagi saya memang belum pernah menginjakkan kaki ke Malino.

Malino sebenarnya tidak asing di telinga saya, karena sudah pernah ke Makassar sebelumnya. Namun, dari omongan orang-orang yang pernah saya dengar, hanya memberi gambaran kalau daerahnya berhawa dingin. 

Gambaran itu kembali ditegaskan instruktur kegiatan outbond yang mendampingi kami ke Malino. Singkat cerita, ketika itu jam menunjukkan sekira pukul 9.00. Saya dan teman-teman bergegas naik ke bus pariwisata yang sudah disiapkan panitia.

Instruktur outbond, Andi Bahar sudah menyampaikan untuk menuju ke Malino menempuh waktu kurang lebih 2,5 jam. Malino sendiri merupakan daerah puncak yang menurutnya berada di ketinggian 1.200 mdpl.

Karena merupakan lokasi puncak, rute yang dilalui pun menanjak dan berliku-liku. Memberikan tantangan bagi perjalanan kami. Namun, tantangan itu terbayarkan dengan pemandangan barisan bukit-bukit dihiasi awan yang terpajang di sepanjang jalan.  

Malino sebenarnya tidak hanya menyajikan wisata alam, tapi juga wisata sejarah. Sebelum tiba di tujuan, kami lebih dulu singgah di lokasi Deklarasi Malino I yang mengakhiri konflik di Poso dan Deklarasi Malino II untuk mengakhiri konflik di Ambon yang diprakarsai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Lokasi tersebut, menurut Andi Bahar, berada di titik 60 kilometer dari Makassar. 

“Ini juga kota sejarah sih, sebenarnya. Yang di depan itu, pesanggrahan Celebes. Itu yang dipakai konferensi perdamaian konflik Ambon dan konflik Poso. Penuh semua Malino itu sama orang yang konflik dibawa ke sini, perjanjian damai di sini. Makanya Malino itu bisa membawa kedamaian,” ujar pria kelahiran Gowa itu. 

Dari lokasi itu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan sebenarnya. Hamparan hutan pinus yang menjulang tinggi menghiasi pandangan kami di sepanjang jalan hingga mendekati lokasi. Membuat saya takjub dengan pesona alamnya.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan jauh, sekira pukul 12.00, kami tiba di lokasi. Udara dingin pun langsung menyambut kedatangan kami, meskipun ketika itu matahari sedang memancarkan panasnya.

Dari puncak terlihat hamparan kebun teh yang luas. Ditambah lagi barisan perbukitan yang berada di sekelilingnya membuat kami takjub dengan pesona Malino. 

Menurut salah satu warga, Roni, kebun teh itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu, yang dikelola pengusaha Jepang. Namun, kini sudah diambil alih orang Indonesia. Setiap hari libur, yakni Sabtu dan Minggu, Malino ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun dari luar Sulawesi Selatan. 

“Tiap hari juga ada tamu. Tapi ramainya itu Sabtu dan Minggu, weekend,” ujar Roni yang juga pekerja di perkebunan teh tersebut. 

Roni pun mengakui daerah itu sangat dingin, terlebih apabila di musim hujan. Namun, ia tidak bisa memperkirakan ukuran suhu udaranya. 

Selain dengan berjalan kaki, wisatawan juga bisa menikmati pemandangan di Malino dengan menunggang kuda. Di lokasi itu disiapkan kuda-kuda yang boleh dimanfaatkan dengan tarif Rp 25 ribu per sekali berkeliling. (*/fen) 


BACA JUGA

Selasa, 28 Januari 2020 14:43

Fraksi DPRD Ingatkan soal RTRW

TANJUNG SELOR – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara, menggelar…

Selasa, 28 Januari 2020 14:37

Pastikan Informasi Pasien Corona Hoaks

TARAKAN – Masyarakat Tarakan sempat dibuat resah dengan beredarnya informasi…

Selasa, 28 Januari 2020 14:33

PLBN Skala Prioritas Pemerintah Pusat

TANJUNG SELOR – Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di…

Senin, 27 Januari 2020 17:01

PAD Sektor Pajak Ditarget Rp 71 Miliar

TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan menargetkan pendapatan asli daerah…

Senin, 27 Januari 2020 17:00

126 Pendaftar Bersaing Jadi Calon Anggota PPK

TARAKAN – Pendaftaran calon anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang…

Senin, 27 Januari 2020 16:58

Corona Sudah Terdeteksi di Malaysia

TANJUNG SELOR – Virus Corona menjadi ancaman serius bagi China…

Senin, 27 Januari 2020 16:49

Waspadai Virus Corona, Bandara dan Pelabuhan di Tarakan Dipasang Thermal Scanner

TANJUNG SELOR – Sebagai wilayah perbatasan, Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi…

Senin, 27 Januari 2020 14:39

Dikunjungi Gubernur, Warga Gembira

TARAKAN–Gubernur Kaltara Irianto Lambrie beserta istri, Rita Ratina Irianto yang…

Minggu, 26 Januari 2020 13:11

Speedboat Non Reguler hanya Berlayar Antar Kecamatan

TANJUNG SELOR – Speedboat bermesin 200 PK seharusnya tidak berlayar…

Minggu, 26 Januari 2020 13:09

Siap Bantu Pengembangan Pasar Batu

GUBERNUR Kalimantan Utara Irianto Lambrie telah melihat kondisi Pasar Batu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers