MANAGED BY:
JUMAT
15 NOVEMBER
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Jumat, 18 Oktober 2019 13:28
34 Tahun Tekuni Budaya Tidung karena Keprihatinan

Datu Norbeck, Budayawan Tarakan Peraih Penghargaan

PELESTARI BUDAYA: Datu Norbeck, budayawan Tarakan yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pariwisata, beberapa hari lalu.

PROKAL.CO, class="p1">Datu Norbeck menerima penghargaan dari Kemendikbud pada Kamis (10/10) lalu, di malam Anugerah Budaya 2019. Ia nobatkan sebagai budayawan di kategori pelestari seni tradisi atas dedikasinya melestarian tradisi budaya suku Tidung. 

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan

 

DATU Norbeck memiliki tekad kuat melestarikan kebudayaan suku Tidung. Pria kelahiran Tarakan, 14 Mei 1956, ini telah mendedikasikan sebagian usianya untuk pelestarian budaya Tidung. 

Selama 34 tahun ia mempelajari lalu mengajarkannya kepada orang-orang yang ingin mempelajari kebudayaan Tidung, terutama seni tari. Di awali pada 1979, Datu Norbeck mempelajari tradisi seni budaya Tidung secara otodidak, karena memang tidak ada sekolah yang mengajarkan. Ia belajar dan bertanya kepada orang yang mengerti tentang budaya Tidung.

Ancaman pudarnya seni tradisi suku Tidung menjadi alasan mendasarnya. Sebagai orang yang memiliki keturunan suku Tidung dari ayahnya, Datu Norbeck muda ketika itu merasa terpanggil mempelajarinya. 

“Ini barangkali bahasa sombongnya kepedulian. Karena apa? Karena prihatin terhadap seni budaya tradisi suku Tidung yang saya lihat semakin pudar dan ada kekhawatiran akan punah,” ujar pria berusia 63 tahun ini kepada Harian Rakyat Kaltara, Selasa (16/10).

Mengapa ia khawatir? Karena bagi Datu Norbeck, melestarikan budaya dan tradisi memiliki nilai-nilai adiluhur. Budaya dan tradisi bukanlah suatu konsep yang dikarang-karang, melainkan lahir dari suatu pengalaman manusia yang berproses secara turun-temurun dan jangka waktu panjang. 

Budaya dan tradisi juga tidak sama di setiap daerah. Karena sangat dipengaruhi oleh alam yang berbeda. Budaya dan tradisi membuat sebagian dari kehidupan manusia akan menjadi mudah. Apabila seseorang berpindah ke daerah lain, lain pula budaya dan tradisinya. Karena itu, ia tertarik untuk melestarikannya. 

Pada 1985, Datu Norbeck kemudian membentuk grup seni yang dalam perjalanannya menjadi sanggar budaya tradisional Paguntaka dan bertahan hingga sekarang. Rumahnya dijadikan tempat belajar.  

“Itulah yang berjalan sampai sekarang sudah 34 tahun. Jadi waktu yang begitu panjang, juga termasuk bagian dari kriteria untuk mendapatkan penghargaan itu tadi,” ungkap alumni Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan ini.

Hampir setiap hari rumah pria yang tinggal di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Karang Anyar Pantai ini didatangi warga yang ingin belajar. Tidak hanya kelompok pemula, tapi juga lanjutan hingga senior, dengan latar belakang usia beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga guru sekolah. Ia mengatur jadwal bagi mereka yang ingin belajar berdasarkan kelompok. 

Bagi Datu Norbeck, mempelajari budaya dan tradisi tidaklah rumit. Modal utama adalah kemauan. Selain itu, ia juga memegang teguh prinsip kejujuran dalam memahami sesuatu. Ia mencontohkan dengan memperhatikan sebuah kursi, tidak boleh berimajinasi terlebih dulu bagaimana bentuknya, melainkan harus mempelajarinya. Jika langsung berandai-andai, hal itu dinilai tidak jujur. 

Selain belajar dari masyarakat, pria yang telah dikaruniai 5 anak dan 7 cucu ini pernah belajar juga di padepokan seni di Jogjakarta. Dari situ dia punya pemahaman bahwa untuk memahami budaya dan tradisi ada semacam rumus yang diterapkan. 

Misal, ia memiliki alat musik yang namanya kelintangan, salah satu alat musik tradisional suku Tidung. Dimana dalam memahami alat musik tersebut notasinya hanya ada lima nada. Atau memahami kesenian musik zapin yang hanya dimainkan satu kunci nada dan lima senar ganda.

Datu Norbeck tidak hanya menguasai seni tari, tapi seluruh budaya tradisi suku Tidung. Mulai dari seni musik, adat perkawinan, termasuk tradisi dua tahunan festival Irau Tengkayu yang pernah dinobatkan sebagai atraksi budaya terpopuler pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016 oleh Kementerian Pariwisata. 

Selama 34 tahun melestarikan budaya dan tradisi suku Tidung, Datu Norbeck pun telah melahirkan banyak penerusnya. Bahkan, ada yang telah memiliki komunitas dan berkarya sendiri.

“Alhamdulillah sudah berkembang. Jadi saya punya murid ada yang di Bulungan sudah punya grup, ada yang di Malinau sudah punya grup, di KTT, dari Tarakan ini ada tiga,” ujar suami Elis Damalia. (*/fen) 


BACA JUGA

Kamis, 14 November 2019 19:50

Pemerintah Canangkan 2 Agenda Besar

BOGOR - Dalam lima tahun ke depan, ada 2 agenda…

Kamis, 14 November 2019 19:45

Hanya Daftar di Golkar

TANJUNG SELOR – Anggota DPRD Kaltara Syarwani merupakan salah satu…

Kamis, 14 November 2019 19:43

Akun Kepala ORI Kaltara Di-hack

TARAKAN – Akun media sosial Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI)…

Kamis, 14 November 2019 19:42

Gara-Gara Lamaran Kerja Ditolak dan Ingin Hijrah

Bagi penggemarnya, tato merupakan karya seni. Namun, tak sedikit juga…

Kamis, 14 November 2019 19:37

Tingkatkan Pengamanan

TARAKAN – Ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumatera…

Kamis, 14 November 2019 19:32

Optimistis 2020 Sudah Lengkap

TANJUNG SELOR – Lapangan terbang di sejumlah daerah perbatasan dan…

Selasa, 12 November 2019 14:36

Surat Lamaran Kelewat Rapi

MALANG - Setelah viral tulisan dokter yang rapi dan mudah…

Selasa, 12 November 2019 14:17

Utamakan Pendidikan, Tanamkan Agama dan Moral sejak Dini

Supriyadi dan Paryanti termasuk di antara 32 pasangan orang tua…

Selasa, 12 November 2019 14:15

Jalan di Perbatasan Harus Jadi Prioritas

TANJUNG SELOR – Pembangunan jalan maupun sarana pendidikan dan kesehatan…

Selasa, 12 November 2019 14:10

Pendaftaran CPNS Diundur

TANJUNG SELOR – Pendaftaran CPNS Pemprov Kaltara yang sebelumnya dijadwalkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*