MANAGED BY:
SELASA
31 MARET
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

EKONOMI

Kamis, 20 Februari 2020 09:53
Harga Udang Windu Terjun Bebas
DIKELUHKAN PETAMBAK: Udang windu menjadi salah satu komoditi ekspor Kalimantan Utara. Saat ini petambak di Kaltara mengeluh anjloknya harga udang.

PROKAL.CO, TARAKAN – Nasib para petani semakin tak menentu akibat harga udang black tiger atau udang windu yang semakin anjlok. Herman, salah seorang petambak yang mengeluhkan penurunan itu.

Bahkan ia mengklaim harga udang pada bulan ini yang paling anjlok, selama terjadi penurunan harga udang. Seingat Herman, bulan ini saja sudah dua kali terjadi penurunan harga udang. Pada 5 Februari lalu dan disusul pada 18 Februari yang akan berlaku pada 20 atau 21 Februari.

“Wah ini paling anjlok sudah ini. Dari tahun ke tahun itu ini paling parah,” keluh Herman, saat dikonfirmasi Harian Rakyat Kaltara. Herman semakin dibuat heran karena informasi yang diperolehnya, bahwa coolstorage di Balikpapan memberlakukan harga beli udang windu yang masih relatif tinggi.

“Saya dengar info di Balikpapan itu mereka harganya masih berlaku tinggi. Cuma enggak ada investigasikan, jadi susah kita,” ungkapnya.   

Penurunan harga udang windu di Tarakan bulan ini saja terjadi atau pada saat mewabahnya virus corona di awal tahun ini. Seingatnya, tahun lalu juga sudah beberapa kali terjadi penurunan harga udang.

“Sebenarnya yang terjadi itu masalah apa. Kalau bilang alasan corona kan, teman-teman sudah jawab. Jika corona itu baru terjadi 2020 ini. Penurunan ini sudah berlangsung berapa kurun waktu, dua tiga tahun lalu  sudah turun terus,” tuturnya.

Dengan anjloknya harga udang, Herman mengaku sangat berdampak pada petambak. Sepengetahuan Herman, paling  banyak 70 persen hasil budidaya petambak bisa dipanen, karena faktor sakit.

Di sisi lain, biaya operasional tambak juga cukup besar.  Untuk bibit, dengan naiknya harga bibit Rp 45 per ekor. Sudah harus merogoh kocek petambak Rp 4,5 juta, untuk 100 ribu ekor bibit. Dengan catatan ditanggung terlebih dulu oleh bos pembelian.

Itu belum ditambah biaya transportasi atau uang speedboat, biaya konsumsi penjaga tambak, dan la-lain. Sehingga diperkirakannya pengeluaran dalam satu kali masa panen mencapai Rp 10 juta.   

Jika hasil panen petambak hanya mendapatkan 100 kilogram dengan size 50, hanya menghasilkan Rp 5,4 juta saja. Tidak cukup untuk menutupi biaya pengeluaran.

“Kita panen cuma 100 kilogram, dengan harga segitu bang, itu hitungannya baki bang. Misalkan Rp 5,4 juta, kita bicara harga tabel ya, 100 kilogram cuma Rp 5,4 juta. Kita ini pengeluaran Rp 10 juta,” bebernya.

Herman mengaku hasil panennya hanya cukup untuk menutupi pengeluaran. Karena biaya operasional tambak yang sangat besar.

Sepengentahuannya, petambak sudah meminta ke DPRD Tarakan untuk diagendakan hearing bersama pihak terkait membahas persoalan ini. Namun hingga sekarang belum ada tindak lanjutnya.

Herman menginginkan DPRD nanti tidak hanya mempertemukan para petambak dengan pihak terkait. Tapi juga melaksanakan tugasnya sebagai anggota dewan dengan membantuk pansus.

Diharapkan pemerintah daerah bisa membantu memfasilitasi hadirnya kompetitor lain bagi perusahaan coolstorage, untuk mencegah permainan monopoli harga udang. “Jika bisa pemerintah itu adakan kompetitor buat perusahaan ini. Jangan cuma satu saja,” harapnya. 

Sebenarnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan telah membentuk BUMD Agrobisnis yang salah satu usahanya nanti di bidang perikanan. Herman menyambut baik dengan harapan bisa mengatasi persoalan yang dihadapi petambak.

Sementara itu, informasi yang diperoleh awak media ini, Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kaltara menggelar focus group discutions (FGD) dengan pihak terkait di kantor penghubung Pemprov Kaltara di Tarakan, Rabu malam (19/2). Hal itupun dibenarkan Kepala DKP Kalimantan Utara, Amir Bakri.

“Bukan besok, malam ini (Rabu, red). Kita cuma minta coolstorage bagaimana sehingga ada informasi masalah harga udang,” ujar Kepala DKP Kaltara, Amir Bakri.

Amir menilai, penurunan harga udang tidak hanya terjadi di Tarakan. Tapi seluruh Indonesia karena permintaan pasar yang disebabkan banyak faktor.

Dampak wabah vius corona merupakan salah satunya. Selain itu, beberapa negara penghasil udang juga sedang panen raya. Di antaranya India, Thailand dan Vietnam. Ditambah lagi dampak krisis global sehingga berdampak pada pola konsumsi masyarakat dunia terhadap udang, berkurang.

Pemerintah tidak bisa mencampuri urusan pasar. Tidak seperti gula, gas, minyak dan lain-lain. Udang sama seperti sawit yang merupakan komoditi ekspor. (mrs/uno)


BACA JUGA

Selasa, 24 November 2015 18:39

Pasar Tenguyun jadi Lautan Sahabat Pejuang

<p><strong>TARAKAN &ndash;</strong> Setelah sukses menggelar jalan sehat santai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers