MANAGED BY:
SABTU
16 OKTOBER
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Jumat, 24 September 2021 20:54
Kembangkan Metode Konvensional

Pengambilan Darah Plasma Konvalesen

METODE KONVENSIONAL: PMI Tarakan melakukan proses pengambilan darah plasma konvalesen dengan metode konvensional dari penyintas, Kamis (23/9).

TARAKAN - Upaya mendapatkan darah plasma konvalesen ke depan tidak lagi hanya bergantung pada peralatan apheresis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.

Palang Merah Indonesia (PMI) Tarakan sedang mengembangkan transfusi darah plasma konvalesen melalui metode konvensional. Upaya itu sedang diujicoba kemarin (23/9) di Markas PMI Tarakan.

Kepala Seksi (Kasi) Penjaminan Mutu PMI Tarakan Ardilla Utari Dewi menjelaskan, metode konvensional ini berbeda dengan menggunakan alat apheresis. Kalau apheresis mesin yang pisah. Darahnya langsung disaring, diambil plasmanya, yang darah merahnya kembalikan ke tubuh. 

“Kalau metode konvalesen, kita ambil totalnya 450cc nanti dilakukan proses pemutaran secara terpisah. Plasmanya diambil 200cc, sisanya dibuat darah biasa,” terang Ardilla. 

Untuk proses pengambilan darahnya, harus selesai dalam waktu 12 menit. Karena lebih dari 15 menit, maka komponen darahnya sudah terpisah. Sedangkan dengan alat apheresis, karena dipisah dengan menggunakan mesin, dibutuhkan waktu 30-45 menit.

Adapun untuk kebutuhan kantong darahnya, tidak sulit untuk mencari stoknya. Saat ini PMI Tarakan baru menyediakan 25 kantong darah. “Jika permintaan meningkat pasti akan pengadaan, cuma tak terlalu sulit untuk mencari. Kita bekerjasama PMI pusat untuk mendapatkan kantong ini,” tuturnya.

Untuk biaya pengambilan darah plasma konvalesen menggunakan metode konvensional, diakuinya lebih murah daripada mendatangkan dari luar kota. Setiap kantongnya Rp 2.330.000. Sedangkan dari luar kota bisa mencapai Rp 2,5 juta. Belum ditambah biaya paking dan lain-lain. 

Adapun data penyitas, pihaknya sudah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Tarakan. Upaya komunikasi sudah dilakukan dengan penyintas. Meskipun ada yang bersedia dan tidak. Akan tetapi, ia menegaskan tidak semua penyintas Covid-19 bisa mendonorkan darah plasmanya. Tetap harus melewati proses seleksinya. 

Menurutnya, saat ini permintaan darah plasma konvalesen di PMI Tarakan sudah berkurang. Seiring telah beroperasinya mesin apheresis dan kantong darah tersedia di RSUD Tarakan. (mrs/uno) 


BACA JUGA

Jumat, 15 Oktober 2021 20:31

Pembangunan TPS3R Bisa Kurangi Sampah

TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan tidak tinggal diam dengan…

Jumat, 15 Oktober 2021 20:29

Bantuan bagi PKL Disalurkan Bertahap

TARAKAN - Bantuan tunai untuk pedagang kaki lima (PKL) dan…

Jumat, 15 Oktober 2021 20:27

Pemanfaatan Teknologi Kembangkan Pertanian

TARAKAN – Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan di Tarakan, Wali…

Jumat, 15 Oktober 2021 20:25

Penerima Vaksin di Tarakan, Ada Dua Laporan Gejala Sesak Nafas

TARAKAN – Komisi Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)…

Jumat, 15 Oktober 2021 20:21

Dishub Prihatin Kondisi Pelayaran di Nunukan

NUNUKAN – Kepala Dinas Perhubungan Nunukan Abdul Halid mengaku prihatin…

Jumat, 15 Oktober 2021 20:11

12 Anak Yatim Dapat Bantuan

TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan melalui Dinas Sosial dan…

Kamis, 14 Oktober 2021 21:29

Remaja Ngaku Polisi, Lakukan Pemerkosaan di Toilet Umum

NUNUKAN – Remaja berinisial MR (17) diamankan Satuan Unit Kriminal…

Kamis, 14 Oktober 2021 21:01

Bupati Malinau Penuhi Panggilan ORI Kaltara

TARAKAN - Ombudsman RI Perwakilan Kaltara memanggil Bupati Malinau Wempi…

Kamis, 14 Oktober 2021 20:58

Siswi Hearing ke DPRD Tarakan

BANYAK pelajar yang khawatir akan kebersihan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi,…

Rabu, 13 Oktober 2021 19:59

Tarakan Bisa Jadi Pangkalan Operasi

TARAKAN – Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) II…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers