MANAGED BY:
SENIN
29 NOVEMBER
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

EKONOMI

Kamis, 30 September 2021 19:38
Gunakan Teknologi Digital

Bantu Pemasaran Produk UMKM

PRODUK LOKAL: Produk kuliner hasil olahan pelaku UKM Tarakan yang akan dipasarkan melalui teknologi digital.

TARAKAN – Pandemi Covid-19 telah berdampak pada seluruh sektor. Tak terkecuali bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). 

Berdasarkan data Bank Indonesia pada Maret 2021, sebanyak 87,5 persen pelaku UMKM di Indonesia terdampak Covid-19. Padahal ketika terjadi resesi tahun 1997 hingga 1998, pelaku UMKM yang paling mampu bertahan dan berhasil menyerap 60 persen tenaga kerja. Bahkan memberikan kontribusi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) nasional. 

“Ini bisa dibayangkan, UMKM yang menyerap tenaga kerja paling banyak juga yang paling terdampak pandemi Covid-19,” ujar Wali Kota Tarakan dr Khairul, Rabu (29/9). 

Akibat dampak Covid-19, angka kemiskinan di Tarakan pun naik 1 persen. Sebelumnya 5 persen menjadi 6 persen. Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan memberikan perhatian kepada pelaku UMKM dalam pemulihan ekonomi. Sejak pandemi Covid-19 terjadi pada 2020, berbagai inovasi  dilakukan Pemkot Tarakan untuk membantu pemasaran UMKM. 

Di antaranya, Pemkot Tarakan membuat buku katalog dengan memasukkan sekira 40 produk unggulan UMKM Tarakan. Pemkot Tarakan juga bekerja sama dengan Buka Lapak, untuk memasarkan produk UMKM Tarakan. 

Ke depan, Pemkot Tarakan berencana menggelar pelatihan dengan memanfaatkan teknologi digital. Untuk membantu pelaku UMKM yang masih gagap teknologi. Karena pemasaran secara online akan menjadi tren, jika dibandingkan toko konvensional. 

“Tahun depan kita akan uji coba menggagas pelatihan khusus membuat kemasan secara online. Karena kami sudah siapkan tahun ini Buka Lapak. Tapi yang masuk hanya beberapa dan kebanjiran pesanan,” ungkap Khairul.   

Khairul berharap pelaku usaha dapat melakukan inovasi melalui perbaikan kemasan. Memenuhi persyaratannya serta berinovasi dalam pemasaran atau marketing.

Sebagai contoh, salah satu regulasi yang diterapkan Pemkot Tarakan yakni mewajibkan supermarket mengakomodir produk UMKM lokal minimal 20 persen. Yang menjadi persoalan, masih banyak produk UMKM lokal terutama di bidang kuliner belum memenuhi standar dan sertifikasi label halal.

Ada wacana, Presiden RI Joko Widodo untuk ke depan, negara menanggung pembuatan sertifikasi halal. Kebijakan itu dinilai mempermudah pelaku UMKM, dalam memasarkan produk. Karena label halal menjadi salah syarat produk makanan bisa masuk ke supermarket. 

Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Usaha Kecil Menengah (UKM) Kementerian Koperasi dan UKM Dwi Andriani Sulistyowati menilai, banyak program yang digagas pihaknya dengan memprioritaskan pelaku UMKM yang berada di daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T). 

Diantaranya melalui pelatihan vocasional inovasi produk bagi UKM yang sedang berlangsung di Tarakan. Bertujuan untuk mengembangkan keunggulan lokal Tarakan. Seperti dari buah Terap yang bisa dinovasi menjadi produk turunan lainnnya. 

“Ini juga untuk membantu pertumbuhan ekonomi di Kota Tarakan,” ujarnya. Sebenarnya, menurut Dwi, sedikitnya 20 kementerian atau lembaga negara semua mengarahkan bantuan atau pembinaan bagi pelaku UKM. 

Ia berharap pelaku UKM harus fokus mengembangkan produknya serta memperbaiki manajemen usaha. Pemerintah Pusat telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2021 tentang Kemudahan Perlindungan dan Pembedayaan Koperasi dan UMKM. 

Selain berkaitan dengan inovasi produk. Inovasi pemasaran juga diperlukan. Karena itu pemerintah bekerjasama dengan akademisi dan lembaga-lembaga, akan selalu mendampingi UKM untuk bisa mengakses ekosistem digital.  

Ini dikaitkan dengan pandemi Covid-19, kehidupan masyarakat tidak bisa lepas dari teknologi digital. Terbukti digitalitasi memberikan pengaruh dalam peningkatan bisnis UKM. 

Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan, UKM yang terhubung dengan platform digital mengalami pertumbuhan 15,2 juta atau 23,7 persen. Ada kenaikan sebesar 7,2 UMKM yang masuk ke dalam digitalisasi, Jika dibandingkan tahun 2020 atau sebelum pandemi, yang hanya mencapai 8 juta UMKM terhubung dengan platform digital. 

Pencapaian 15,2 juta UMKM masuk ke dalam digitalisasi ini merupakan upaya bersama. Untuk mencapai target tahun 2021, yang direncanakan 13,7 juta UMKM masuk ke plaform digital. (mrs/uno)


BACA JUGA

Selasa, 24 November 2015 18:39

Pasar Tenguyun jadi Lautan Sahabat Pejuang

<p><strong>TARAKAN &ndash;</strong> Setelah sukses menggelar jalan sehat santai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers