MANAGED BY:
SELASA
24 MEI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Kamis, 30 Desember 2021 20:51
Oknum Polisi Diduga Keroyok Pemuda

Disekap dan Dihajar di Rumah Kost

DUGAAN PENGANIAYAAN: Pemuda yang mengalami pengeroyokan yang diduga dilakukan oknum polisi.

NUNUKAN – Pemuda berinisial R yang merupakan warga Jalan Antasari Baru, Kabupaten Nunukan, terlihat syok setelah mengalami pengeroyokan yang diduga karena salah panggil.

Parahnya, pengeroyoknya diduga oknum polisi yang bertugas di Polres Nunukan. Ditemui dikediamannya, pria berusia 21 tahun itu meringis menahan sakit. Di sejumlah bagian tubuhnya masih terlihat luka lebam, tangan sebelah kiri pun terbalut perban menutupi lukanya. 

“Saya dipukuli dari malam sampai jam enam pagi. Bagian dalam perut terasa sangat ngilu saat bergerak,” ucapnya, Rabu (29/12).

Luka yang dialami bermula dari insiden yang terjadi pada Minggu lalu (26/12). Tepatnya di depan toko Naufal, tempat dia bekerja, di Jalan Tien Soeharto Nunukan Timur. Sekitar pukul 01.00 Wita, ia melambaikan tangan sembari berteriak memanggil dua pengendara motor yang disangka sebagai temannya.

Sayangnya, aksi teriakan dan lambaian tangan tersebut menjadi kesalahpahaman sampai akhirnya berujung penganiayaan.

“Awalnya yang bawa motor suruh saya duel dengan yang diboncengnya. Tapi karena perawakannya kecil, menyuruh saya lawan dia saja. Saya emosi, langsung saja hantam pelipisnya,” tuturnya.

Mendapat hantaman tersebut, si korban tidak membalas pukulan. Ia hanya mengeluarkan ancaman sambil meminta pemuda itu harus menunggunya kembali. 

Tak lama kemudian, datang sekitar 5 orang yang langsung mengeroyok pemuda tersebut. Ia diseret ke tengah jalanan aspal, disuruh tiarap dan diminta menengadah. 

“Kepala saya ditodong dan dipukul pakai pistol. Di situ saya tahu yang saya pukul ternyata polisi,” katanya.

Peristiwa tersebut masih berlanjut. Kemudian pemuda itu dibawa menggunakan sepeda motor ke sebuah kostan di wilayah Pasar Baru Nunukan. Ternyata, di lokasi sudah ada beberapa orang teman pengeroyoknya. Tak lama kemudian, datang beberapa orang lagi berasal dari asrama polisi.

Diketahui dari asrama polisi, karena ada teman yang dikenal berinisial S. Terkejut melihat pemuda itu babak belur, temannya tersebut berusaha menengahi dan melerai. Sayangnya usahanya tidak diindahkan teman-temannya.

“Pintu dikunci dari dalam, dan saya jadi bulan-bulanan lebih dari sepuluh orang. Tak ada artinya saya teriak minta ampun, meski darah sudah keluar dari mulut dan hidung. Sebisa mungkin saya melindungi wajah dengan kedua tangan sampai biru dan membengkak,” ungkapnya.

Bahkan dia pun dijambak dan rambutnya dicukur menggunakan pisau disertai ancaman dan caci maki. Pemukulan tersebut terjadi sampai sekitar pukul 06.00 Wita.

“Jam enam pagi pintu sempat terbuka, saya lari keluar masih dikejar. Begitu kedapatan, saya kembali dihajar dan diinjak. Ada warga setempat yang melihat tapi tidak mau ikut campur, karena dibilang bahwa mereka aparat polisi,” imbuhnya.

Pemuda itu pun berhasil pulang ke rumah, berkat teman yang dikenalnya berinisial S tersebut. Pihak keluarga kemudian membawanya untuk visum, lalu melaporkan kejadian itu ke Propam Polres Nunukan. 

“Saya heran kenapa sampai disekap dan dihajar ramai-ramai di kostan. Kalaupun bersalah, seharusnya diselesaikan di kantor polisi, apalagi lokasinya tidak jauh dari KSKP (Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan). Sampai hari ini (kemarin, Red) juga tidak ada permintaan maaf dari mereka. Padahal kasusnya sudah diketahui pihak Polres Nunukan,” sesalnya. 

Dikonfirmasi atas kasus dugaan penganiayaan oleh oknum anggota Polres Nunukan, Kapolres Nunukan AKBP Ricky Hadianto membenarkan adanya laporan atas kejadian itu.

“Untuk internalnya, sekarang dalam proses bagian Propam. Mereka masih melakukan interogasi dan saya belum menerima laporan secara keseluruhan,” tuturnya.

Sementara ini, baru dua oknum anggota Polres Nunukan yang menjalani pemeriksaan Propam. “Pelakunya polisi baru, adapun masalah kebijakan untuk penindakan, sudah saya ambil. Polisi baru yang masih bujang, semua tidak boleh keluar asrama. Ini juga sebagai langkah, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Mereka tidak boleh meninggalkan asrama,” tegasnya. 

Ricky juga tidak membantah adanya insiden penodongan dan pemukulan dengan menggunakan senjata api. “Informasi itu ada juga, namun kemungkinan bukan dari kami (yang melakukan). Yang jelas, kami belum tahu persis (detail kejadiannya). Kita masih fokus penyelidikan. Untuk konsekuensi, kita akan melihat hasil penyidikan Propam dan laporan dari masyarakat,” tutupnya. (*/lik/*/viq/uno) 


BACA JUGA

Kamis, 19 November 2015 18:03

Penghitungan Suara Gunakan Sistem Online

<p><strong>TANJUNG SELOR</strong> &ndash; Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Utara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers