MANAGED BY:
SENIN
08 AGUSTUS
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KOMBIS

Minggu, 13 Maret 2022 20:09
Mendag Yakin Indonesia Akan Jadi Negara Maju Bersama UMKM
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi

Jakarta, 11 Maret 2022 – Jakarta, 11 Maret 2022 – Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memberi berkontribusi  61,97 terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia serta mampu menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja pada 2021. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebutka Indonesia berpeluang menjadi negara dengan ekonomi maju di dunia karena mempunyai pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang kuat. 

 

Hal ini disampaikan Mendag Lutfi saat membuka acara Briefer's Event Empowering SMEs To Recover

Stronger secara virtual pada hari ini, Jumat (11/3).

 

“Indonesia adalah negara kuat dan pasti bisa maju karena memiliki UKM yang kuat, mempunyai

kualitas manusia yang besar, bertanggung jawab, dan saling gotong royong. Indonesia akan

menjadi salah satu negara paling maju di dunia,” kata Mendag Lutfi.

 

Mendag menyampaikan, UKM berkontribusi terhadap 61,97 terhadap produk domestik bruto (PDB)

Indonesia serta menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja pada 2021. Namun, dari sisi ekspor pada

triwulan ketiga 2021, kontribusi UKM terhadap ekspor nonmigas Indonesia baru mencapai 15,65

persen. Dari segi jumlah pelaku, hanya sekitar 16,96 persen eksportir yang berasal dari UKM.

 

Adapun produk UKM yang diekspor di antaranya produk mesin sederhana, aksesoris kendaraan,

peralatan rumah tangga, produk kayu, tekstil, dan hasil laut.

 

“Untuk itu, kita perlu melihat tantangan ke depan untuk memajukan usaha sebagai pilar utama

memajukan Indonesia,” tandas Mendag Lutfi.

 

Mendag mengungkapkan, pada 2045 PDB Indonesia diprediksi menempati urutan keempat

berdasar nilai tukar pasar dengan per kapita sebesar USD 28,934 di bawah Tiongkok, Amerika

Serikat, dan India. Indonesia juga diprediksi akan keluar dari jebakan kelas menengah pada 2034.

 

Untuk mencapai hal tersebut, investasi harus tumbuh 7,3 persen dengan kontribusi PDB sebesar 39

persen, manufaktur tumbuh 7,8 persen dengan kontribusi terhadap PDB 32 persen, ekspor tumbuh

7,9 persen dengan kontribusi 54 persen. Sementara untuk keluar dari jebakan kelas menengah,

Indonesia harus melakukan investasi pada infrastruktur dan transfer teknologi.

 

“Saat ini infrastruktur sedang digenjot agar biaya logistik menjadi lebih murah dan transfer

teknologi sedang dikerjakan. Agar berhasil melakukan transfer teknologi, Indonesia harus memiliki

pendidikan yang berkualitas agar sumber daya manusia di masa mendatang menjadi kelas prima,”

jelas Mendag Lutfi.

 

Mendag menjelaskan, terdapat beberapa tren yang harus diantisipasi masa yang akan datang, yaitu

megatren dunia pada 2045, evolusi ekspor Indonesia ke produk industri dan industri berteknologi

tinggi, serta ekonomi digital.

 

Mendag Lutfi menyebut, pada 2045 penduduk dunia akan tumbuh menjadi 9,45 miliar orang. Pada

masa ini, demografi penduduk dunia didominasi oleh orang lanjut usia. Pada periode ini, 66 persen

penduduk tinggal di perkotaan dan 95 persen dari urbanisasi tersebut terjadi di negara emerging

market seperti Indonesia. Pada periode ini, keuangan internasional juga menjadi jauh lebih

transparan dan tertelusur (tracebility) yang menyebabkan mata uang regional menjadi lebih banyak

dan tidak dikuasai oleh mata uang tertentu seperti hari ini.

 

Selain itu, lanjutnya, 8,1 miliar atau 84 persen dari penduduk dunia termasuk dalam kelas

menengah. Jumlah tersebut merupakan suatu tren yang bagus untuk konsumsi dan baik untuk

pertumbuhan UKM. Pertumbuhan konsumsi juga bagus untuk pertumbuhan negara karena

konsumsi turut membantu pertumbuhan ekonomi sebesar 54 persen.

 

“Di masa depan, kompetisi penguasaan sumber daya alam akan semakin meningkat dengan benua

Asia dan Afrika menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, kita harus menjaga cadangan

sumber daya alam untuk memastikan yang terbaik untuk kepentingan Indonesia,” terang Mendag

Lutfi.

 

Mendag Lutfi menambahkan, pada masa ini terjadi perubahan iklim. Suhu muka bumi akan naik

antara 3—3,5 persen sehingga memberikan efek pada negara kepulauan,seperti Indonesia. Di masa

mendatang yang harus diantisipasi juga adalah penguasaan teknologi seperti kecerdasan buatan,

bioteknologi, dan ekonomi sirkular.

 

“Di masa depan, 71 persen peranan ekonomi akan berada di negara emerging market dan 54 persen

berada di Asia. Jadi, kita akan memastikan peperangan melawan kemiskinan dan pertumbuhan

ekonomi harus dapat dicapai sebelum batas waktu tahun 2038,” imbuh Mendag Lutfi.

 

Mendag Lutfi juga menjelaskan peran ekonomi digital terhadap ekonomi nasional. Pada 2020, total

PDB Indonesia tercatat sebesar Rp 15.400 triliun. Dari jumlah tersebut, ekonomi digital berkontribusi

sebesar 4 persen atau sebesar Rp 632 triliun.

 

“Pada 2030, PDB Indonesia akan tumbuh menjadi Rp24.000 triliun. Pada periode ini, ekonomi digital

tumbuh empat kali lipat menjadi Rp4.531 triliun atau berkontribusi sebesar 18 persen dari total PDB.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu sektor pendidikan dan kesehatan yang

mempunyai peran untuk menyelamatkan generasi emas Indonesia,” pungkas Mendag Lutfi.


BACA JUGA

Selasa, 24 November 2015 19:48

Kaltara Boyong Piala Bergilir

<p><strong>JAKARTA</strong> &ndash; Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Kalimantan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers