MANAGED BY:
RABU
06 JULI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Senin, 23 Mei 2022 20:08
BAP Belum Jelas
MINTA KEJELASAN: Keluarga korban mendatangi Mako Satuan Polairud Polres Tarakan untuk meminta kejelasan pada perkara yang menimpa korban hingga meninggal dunia, Sabtu lalu (21/5).

PIHAK keluarga almarhum Agusliansyah mendatangi Satuan Polairud Polres Tarakan, dugaan kasus pembunuhan. 

Agusliansyah merupakan satu korban yang ditemukan meninggal dunia pada November lalu di perairan Tanjung Pasir. Sebelumnya Satpolair sempat menyimpulkan kasusnya kecelakaan laut. Namun berkembang lagi kasusnya diselidiki dugaan tindak pidana lain. Termasuk dua korban meninggal dunia lainnya, Arfan dan Rizki.

Kakak Almarhum Agusliansyah, Nunung meminta penjelasan dari pihak kepolisian, terkait informasi ada tersangka dalam kasus ini. “Kami senang ternyata ada tersangka, tapi belum puas. Menurut kami, BAP (Berita Acara Pemeriksaan) belum jelas,” ucapnya, Sabtu lalu (21/5).

Ia mengatakan, sebelumnya pihak keluarga sempat mengikhlaskan jika ternyata kematian Agusliansyah karena kecelakaan laut. Namun, setelah adanya informasi tersangka ditetapkan, sehingga pihak keluarga meminta kepastian. 

Keterangan pihak kepolisian juga, tersangka hanya satu orang dan ada dua orang lagi di dalam speedboat saat terjadinya kecelakaan. Ia menilai ada kerancuan dari keterangan kepolisian. Mulai dari menyebutkan tersangka merupakan motoris. Bahkan, ada yang bilang tersangka merupakan orang yang menumpang dan anak buah kapal (ABK).

Sementara sebulan setelah ketiga korban ditemukan meninggal dunia, polisi langsung menyatakan kejadian kecelakaan laut dengan melibatkan satu speedboat lainnya. Namun, speedboat yang menabrak tidak ditemukan. Ditambah lagi speedboat hingga mesin hilang, tapi selang ditemukan.

“Jam 10 pagi kami sudah ke sini (Sat Polair Polres Tarakan), katanya di speedboat ada motoris, ABK dan penumpang. Kami mau tahu keberadaan speedboat jadi disuruh ke Sat Reskrim dan kembali lagi ke Sat Polair Polres. Dijelaskan speedboat (tersangka) ada motoris dan ABK. Tak sama dengan keterangan pagi. Ini jadi pertanyaan keluarga, ada apa. Ini ada yang janggal,” bebernya.

Saat kejadian, Agusliansyah disebutkan langsung meninggal dunia dan speedboat yang digunakan pelaku. Salah satu penumpangnya jatuh ke laut dan berhasil selamat, meski sempat pingsan. “Nah kenapa baru sekarang ada tersangka, setelah 6 bulan. Saksi yang selamat itu kenapa tidak melapor. Tahu-tahu ini didapat saja tersangkanya,” ungkapnya. 

Pihak keluarga juga menyesalkan, jika benar kejadian seperti yang disampaikan penyidik. Tersangka maupun saksi yang menabrak tidak segera menolong korban. Kejanggalan lain, handphone korban Arfan aktif hingga pukul 01.00 Wita setelah mayatnya ditemukan. 

Sementara korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. Saat dikembalikan kepada pihak keluarga, bentuk handphone tidak wajar, ada bengkok seperti bekas hantaman.

Hasil visum juga lukanya bukan kasus kecelakaan laut apalagi kelalaian saat mengendarai speedboat. Pihak keluarga menilia, ketiga korban lukanya tidak wajar. Luka sayatan benda tajam. 

“Jika kena pecahan speedboat, tidak wajar. Pejabat Polair Polres yang lama katanya luka karena baling mesin. Masa sih kipas mesin cari tiga korban. Kan ini lukanya sama sepertinya karena luka disengaja, benda tumpul dan benda tajam,” bebernya.

Pihak keluarga menduga kasus ini berkaitan dengan keterlibatan oknum aparat. Jika hasil penyelidikan tidak sesuai dengan harapan keluarga. Maka, pihaknya juga akan berunding untuk mengambil langkah hukum lain.

“Kalau memang ada keterlibatan aparat, harus diusut tuntas. Jangan disembunyikan. Kami sudah menahan diri untuk tetap kekeluargaan dan kooperatif. Tolong kami juga dibantu,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolres Tarakan, AKBP Taufik Nurmandia mengaku sudah memberitahukan kepada keluarga korban berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). Namun pihaknya belum menemukan adanya unsur kesengajaan, korban mendapat penganiayaan. 

“Sebelumnya Kapolda yang mau rilis. Makanya kami menunggu arahan dan memastikan lagi,” jelasnya, Minggu (22/5).

Pihaknya mengakui, sudah mengamankan satu tersangka yang merupakan motoris. Didugaa tersangka berbuat lalai dengan menyebabkan 3 orang meninggal dunia. “Itu sudah dijelaskan sama keluarga korban,” tutupnya. (sas/uno)


BACA JUGA

Rabu, 06 Juli 2022 21:22

Kuota Solar di SPBU Menurun

TANJUNG SELOR – Persoalan antrean panjang kendaraan yang terjadi di…

Rabu, 06 Juli 2022 21:20

Awasi 2 Organisasi Terlarang

TARAKAN – Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam…

Selasa, 05 Juli 2022 20:42

DPB Kaltara Naik 1.202 Pemilih

TANJUNG SELOR - Rekapitulasi Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) Semester I…

Selasa, 05 Juli 2022 20:40

Kerugian Negara Ditaksir Rp 1,1 M

TIGA tersangka perkara dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) dalam pengelolaan…

Selasa, 05 Juli 2022 12:35

Perusahaan Minta Ganti Sewa Lahan, Pemkab Tana Tidung Didesak Bayar Rp 50 Miliar

TANA TIDUNG–Status lahan milik PT Inhutani, dengan Pemerintah Kabupaten Tana…

Senin, 04 Juli 2022 21:12

Usulan DAK Fisik Rp 588,74 M

TANJUNG SELOR - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Utara…

Senin, 04 Juli 2022 21:10

Kerap Ditangkap, Lakukan Aksi Mogok, Akhirnya Kapal Angkut Sembako Diperbolehkan Beroperasi

NUNUKAN - Aksi mogok beroperasi bagi kapal angkutan pedalaman di…

Sabtu, 02 Juli 2022 21:20

Alur Pelayaran di Sini Belum Tuntas, Mulai Budidaya Rumput Laut hingga Ada Ranjau

TARAKAN - Alur pelayaran di perairan Kabupaten Nunukan dan Kota…

Sabtu, 02 Juli 2022 21:15

Pengembangan Kasus Sabu Terkendala Jaringan Terputus

TARAKAN - Pemusnahan barang bukti sabu hasil pengungkapan Satreskoba Polres…

Jumat, 01 Juli 2022 20:52

Mewakili Kaltara di MTQ Nasional XXIX di Kalsel

Mendapatkan juara I dalam kategori Tahfidz Qur'an, Ade Abdurrahman pun…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers