MANAGED BY:
SABTU
02 JULI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Senin, 20 Juni 2022 20:43
Akibat Penambangan Pasir Ilegal Gunakan Alat Berat, Rumah Warga Terancam Roboh
MERESAHKAN WARGA: Alat berat di lokasi penambangan pasir pantai ilegal di Sungai Batang Pulau Sebatik Nunukan.

NUNUKAN – Sempat dibubarkan aparat dan DPRD Nunukan pada Juni 2021 lalu. Namun, hal itu tidak membuat jera atau menghentikan aktivitas penambangan pasir pantai ilegal di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan. 

Aktivitas penambangan pasir malah kembali ramai dipersoalkan masyarakat. Saat ini, penambangan yang sebelumnya di Pantai Sei Manurung, berpindah ke Pantai Sungai Batang, Jalan Batu Lamampu, RT 11 Desa Tanjung Karang, Sebatik Induk. Bahkan, penambangan yang dilakukan saat ini menggunakan alat berat excavator. Akibatnya, sejumlah rumah penduduk rusak. 

Basri yang merupakan salah seorang warga terdampak aktivitas itu mengaku, hunian panggung dengan konstruksi kayu di wilayah penambangan ilegal banyak yang terancam roboh. 

“Tiang rumah menggantung dan banyak yang miring. Kami bingung kondisi ini sudah dilaporkan ke desa dan kecamatan. Diteruskan ke aparat, namun tak pernah ada tindakan dan penangkapan. Padahal sudah sekitar lima bulan penambangan menggunakan excavator,” ucapnya, Minggu (19/6).

Kerusakan juga terjadi pada pagar masjid di lokasi tersebut, yang mulai ambruk. “Kami seringkali menegur para penambang ilegal itu. Apalagi kerusakan yang terjadi tak ada ganti rugi apapun. Kami ini penduduk pesisir bukan kalangan mampu. Bagaimana kami bisa pindah dan membangun rumah di lokasi lain,” keluhnya.

Karena melapor kemanapun tidak ada solusi, Basri akhirnya memvideokan excavator dan memotretnya untuk diunggah ke media sosial. “Kami butuh solusi, semoga saja aktivitas tanpa izin ini segera berhenti. Kami mohon bagi yang berwenang bisa menghentikan kegiatan yang mengancam keberadaan Pulau Sebatik ini,” harapnya. 

Sementara itu, Camat Sebatik Induk Andi Salahuddin tidak membantah eksisnya penambangan pasir ilegal di wilayahnya. Aktivitas tersebut menjadi hal dilematis, karena masyarakat selalu main kucing-kucingan dengan aparat.

“Kalau dipatroli, mereka hilang entah kemana. Sepertinya mereka (penambang pasir) hafal jam patroli. Sehingga begitu tak ada patroli, mereka kembali menambang,” ungkapnya.

Solahudin memastikan aktivitas itu ilegal dan terlarang. Adapun penambangan pasir, terus terjadi akibat kelangkaan pasir di Pulau Sebatik. Warga Sebatik hanya mendapatkan pasir bangunan yang didatangkan dari Palu dan Tanjung Selor. Dengan harga per ritnya sekitar Rp 1,2 juta, atau dua kali lipat dari harga pasir ilegal yang dibanderol Rp 600.000 per rit.

“Walaupun alasan langka, tetap saja tidak boleh. Tak ada istilah mencuri karena perut lapar dibenarkan,” imbuhnya. 

Solahuddin juga tidak dapat memastikan berapa luasan pantai yang tergerus, akibat penambangan liar tersebut. Pihak aparatur pemerintahan kecamatan juga kerap melakukan sosialisasi dan mendatangi para penambang. Namun lagi-lagi, upaya tersebut diabaikan.

“Aparat memasang plang peringatan, tapi tak pernah diindahkan. Saya tak tahu juga kenapa, sementara undang-undang dan hukumnya jelas. Bahkan lebih berat daripada hukuman pembunuhan. Kami berharap ada tindakan, sehingga ada efek jera dan aktivitas itu bisa berhenti,” pintanya. 

Selain ancaman abrasi dan berkurangnya luas Pulau Sebatik. Potensi gesekan warga, menjadi ancaman sosial jika masih saja dibiarkan. Salahuddin juga mengakui, persoalan ini menjadi dilematis karena menyangkut urusan perut. 

Akan tetapi, efeknya jauh lebih besar dengan ancaman hilangnya Pulau Sebatik. Tanpa pasir ilegal, ada pasir didatangkan dari Palu. Sementara abrasi akan menenggelamkan Sebatik. “Itulah permohonan kami agar ada tindakan aparat supaya ada efek jera. Kita hanya melakukan imbauan bukan eksekutor. Kita juga sudah laporkan ke polisi. Dalam kasus ini, ada foto dan video sebagai bukti. Tentu sudah diketahui siapa pemiliknya, dengan bukti yang jelas itu,” tegasnya.

Terpisah, Kapolsek Sebatik Timur Iptu Randya Shaktika mengaku, belum mendapat informasi penambangan dengan excavator di Sungai Batang. Selama ini, para penambang liar hanya menambang secara manual, dan selalu menghindari aparat saat patroli dan pengawasan.

Tindakan pembubaran sudah pernah dilakukan. Sehingga para penambang selalu mencari kelengahan aparat untuk mengambil pasir. “Akan segera kami tindak lanjuti dengan menerjunkan anggota ke lapangan. Untuk tindaklanjutnya nanti oleh Polres Nunukan,” tuturnya.

Merujuk pendataan terakhir BPBD Nunukan pada Februari 2020, tercatat ada sekitar 969 hektare sepanjang pantai di Sebatik yang tergerus abrasi. Ada 4 kecamatan di Pulau Sebatik yang terdampak, masing-masing Kecamatan Sebatik Timur dengan luasan 120 hektare.

Kecamatan Sebatik Induk seluas 357 hektare, Sebatik Barat 416 hektare, dan Sebatik Utara 76 hektare. Kerusakan yang terjadi dari empat lokasi ini yaitu sebanyak 14 unit rumah, satu bangunan posyandu, satu musala, beberapa titik jalan desa, dan satu jembatan pos Marinir rusak parah. (*/dzl/uno) 


BACA JUGA

Jumat, 01 Juli 2022 20:52

Mewakili Kaltara di MTQ Nasional XXIX di Kalsel

Mendapatkan juara I dalam kategori Tahfidz Qur'an, Ade Abdurrahman pun…

Jumat, 01 Juli 2022 20:51

Hanya Satu Akses Masuk Hutan Kota

TANJUNG SELOR - Hutan Kota Bunda Hayati Tanjung Selor dikonsep…

Jumat, 01 Juli 2022 11:03

Usulan Bangun Rumah Sakit Jiwa di Kaltara Belum Disetujui

TANJUNG SELOR - Rencana pembangunan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di…

Kamis, 30 Juni 2022 21:24

Berkas Dinyatakan Lengkap, Kasus Tambang Emas Ilegal Dilimpahkan ke Kejari

TANJUNG SELOR – Kasus tambang emas ilegal telah dilimpahkan ke…

Kamis, 30 Juni 2022 21:21

Tak Bisa Berinteraksi dengan Keluarga

TARAKAN - Dua bus disiapkan panitia saat pelepasan keberangkatan calon…

Kamis, 30 Juni 2022 14:10

Belum Dapat Jawaban, Nasib DOB Masih Menggantung

Usulan percepatan pembentukan daerah otonomi baru (DOB) Tanjung Selor hingga…

Rabu, 29 Juni 2022 20:41

Tangani 5 Nelayan WNA, Tindak Pidana Perikanan Alami Kenaikan

TARAKAN - Hingga pertengahan tahun ini, Stasiun Pengawasan Sumber Daya…

Rabu, 29 Juni 2022 20:39

Hasil Audit, Bendahara Diminta Ganti Rp 2 Miliar Lebih

MANTAN Bendahara RSUD Nunukan berinisial NH, diminta untuk mengembalikan keuangan…

Rabu, 29 Juni 2022 20:37

Kaltara Belum Terapkan Pembelian BBM Gunakan Aplikasi

TARAKAN - Jelang penerapan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) Khusus…

Rabu, 29 Juni 2022 14:51

Terkait SOA Penumpang, Dishub Kaltara Masih Lakukan Koordinasi

TANJUNG SELOR - Dinas Perhubungan(Dishub) Kalimantan Utara (Kaltara) masih terus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers