MANAGED BY:
SENIN
06 FEBRUARI
UTAMA | BENUANTA | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Sabtu, 03 Desember 2022 08:55
Kasus Pembunuhan Terkuak Setelah 20 Bulan

Pasutri Culik Korban dan Minta Tebusan Rp 200 Juta

PEMBUNUHAN: Polisi mengamankan tersangka pembunuhan yang kini sudah ditahan di Rumah Tahanan Mako Polres Tarakan, Jumat (2/12).

TARAKAN – Kasus pembunuhan yang dilakukan pasangan suami istri (Pasutri) berinisial EG (23) dan AF (22), pada April 2021 lalu, akhirnya berhasil diungkap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tarakan.

Kasus pembunuhan tersebut baru terkuak diperkirakan 20 bulan lamanya dan diamankan pada 27 November 2022. Dalam melakukan aksinya, pasutri itu tidak bertindak berdua. Melainkan dibantu teman EG yang berinisial MD (43). Ketiganya bekerja sama membunuh sepupu EG, Arya Gading Ramadan.

Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia mengatakan, perbuatan ketiga tersangka terbilang sadis. Mulai dari menculik korban sekira pukul 05.00 Wita saat sedang mengecek kandang ayam miliknya. Kemudian menusuk paha korban, agar tidak berteriak hingga mencekik menggunakan tali dan menusuk dada korban. Setelah lemas di pangkuan EG, pada April tahun lalu.

“Lokasi kandang ayam korban dan tersangka ini bersebelahan di Jalan Perumahan PNS, belakang blok D RT 01 Kelurahan Juata Permai,” jelasnya, Jumat (2/12).

Korban sebelumnya dilaporkan hilang pada April 2021 lalu, setelah sepekan meninggalkan rumah. Sebelumnya korban terlibat pertengkaran dengan orangtuanya. Sehingga orangtuanya mengira korban pergi dari rumah bersama EG. Namun saat ditanyakan kepada EG, mengaku tidak tahu keberadaan Arya.

Pada 27 November lalu, orangtua korban mendapatkan informasi anaknya dibunuh EG dari temannya EG. Informasi ini didapatkan saat EG meranyau usai nyabu. Orangtua Arya pun melaporkan kasus ini ke Polres Tarakan.

“Kami amankan EG dan istrinya pada 27 November, sambil mengembangkan informasi. Kami khawatirkan keluarga korban main hakim sendiri. Karena mendengar anaknya dibunuh EG,” ungkapnya.

Pengakuan EG, awalnya ia dan AF menculik korban untuk meminta tebusan Rp 200 juta kepada orangtua korban. Korban sempat didudukkan di kursi sekitar pondok ayam miliknya, dengan tangan terikat tali. Setelah terikat, AF ke kota dan MD datang ke pondok. Sebelumnya, ketiga tersangka ini memang sudah membuat rencana untuk menculik korban.

“Tersangka EG dipercayakan untuk kelola kandang ayam dan usaha pos kepiting sama orangtuanya. Tapi uangnya dipakai buat game online dan sabu. Pas ditagih bapaknya, uang modal sudah habis. Makanya EG berpikiran mau menculik Arya yang sepupunya ini. Karena dia tahu orangtua korban termasuk orang berada,” tuturnya.

Pasutri itu sempat membuat video, Arya minta uang tebusan kepada orangtuanya. Namun setelah beberapa lama, Arya berontak dan berteriak. EG panik kemudian menusuk paha korban menggunakan pisau badik.

Karena sudah ada penganiayaan, MD malah mengajak EG untuk membunuh Arya agar aksi mereka tidak ketahuan. Tersangka EG pun setuju dan langsung mencari tali untuk menjerat leher korban.

Setelah korban lemas, kemudian dipeluk EG dan menikamkan pisau ke bagian dadanya. Hingga korban menghembuskan nafas terakhir.

“Selanjutnya korban dibungkus kain dan dikubur dekat kandang ayam di kebun nanas, tidak jauh dari pondok tersangka. Memang pondok ini tidak pernah digunakan orangtua korban. Jadi memudahkan tersangka menyembunyikan korban. Apalagi di sekitar korban dimakamkan, bau kotoran ayam sangat menyengat,” urainya.

Ketiga tersangka, kata Kapolres, disangkakan Pasal 340 KUHPidana tentang pembunuhan berencana dan pasal 338 KUHPidana tentang pembunuhan. “Ancaman pidananya seumur hidup hingga hukuman mati. Tersangka EG ini pernah diamankan di Polsek Tarakan Utara, untuk kasus penganiayaan, menikam orang. Tapi didamaikan dengan penyelesaian secara kekeluargaan,” imbuhnya.

Saat dibunuh sepupunya sendiri, Arya masih berusia 19 tahun dan duduk di bangku kelas 2 di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Tarakan. Arya bahkan kerap membantu para tersangka, untuk memenuhi kebutuhan rumahnya. Seperti belikan susu untuk anak EG.

Terlebih lagi EG ini selalu kekurangan biaya hidup, lantaran hobinya yang suka judi online dan beli sabu. Kasat Reskrim Polres Tarakan Iptu Muhammad Aldi menambahkan, pengungkapan kasus ini tergolong perkara yang rumit. Selain karena kejadian sudah setahun lebih, informasi yang didapatkan berawal dari isu EG mengetahui tentang hilangnya Arya.

Kemudian dilakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi dan didapatkan lagi informasi EG pernah membunuh orang. “Pemeriksaan saksi pun kami lakukan di berbagai tempat berbeda. Ada yang di Pulau Tibi, Sajau sampai daerah Bulungan. Gunanya untuk mendapatkan informasi awal, terkait peristiwa di tahun 2021 itu benar atau tidak,” ungkapnya.

Setelah didapatkan informasi EG benar membunuh Arya, tantangan lain muncul. Dimana Arya dimakamkan lokasinya cukup luas dan pencarian disulitkan dengan bau kotoran ayam yang menyengat. Sehingga menutupi bau mayat.

Awalnya keterangan EG berubah-ubah, pengakuannya buang di laut. Kalau mengaku lagi ditenggelamkan di parit. Hingga tiga hari setelah diamankan, pada 30 November baru diketahui dimana lokasi Arya dimakamkan.

“Kami mencari dimana yang diduga titik EG mengubur Arya. Pertama kali menemukan korban dari siku korban yang menyembul keluar di sekitar kandang ayam, di ladang nanas. Kondisi tubuhnya hampir utuh, tapi bagian siku hingga tangan kirinya sudah tidak ada. Dugaan kami dimakan binatang,” tuturnya.

Kejadian pada April 2021, menurut keterangan EG pada Ramadan hari ketiga. Peran istri EG, mengikat korban menggunakan tali. Bahkan AF istri EG ini sempat membelikan tali untuk memperkuat ikatan korban.

Setelah korban dibunuh, EG dan MD yang berperan menggali tanah sedalam sekitar 50 sentimeter menggunakan sekop kecil. Tekstur tanah di lokasi tersebut memang gembur dan mudah digali. Korban pun dikubur dalam kondisi tubuh menyamping. “Para tersangka membersihkan barang-barang atau bekas darah kejadian pada saat itu,” katanya.

Korban saat datang ke kandang ayam, sebelum diculik para tersangka itu menggunakan sepeda motor dan membawa tas berisi laptop. Tapi, tersangka beranggapan jika menjual hasil barang korban bisa tertangkap dari penelusuran pembelinya.

Akhirnya tas dan laptop dibuang di tempat sampah, motor ditinggalkan dengan kunci yang menempel. “Dengan dalih kalau dicurigai ya pasti orang yang membawa motor korban. Kami masih mencari barang milik korban. Sambil anggota kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap MD di Lapas Berau,” jelasnya.

Sedangkan terhadap jasad korban, sudah dilakukan otopsi dan rencananya dilakukan tes DNA sekaligus pencocokkan rahang gigi. Menyesuaikan riwayat dan keterangan dari pengecekan yang pernah dilakukan Arya ke dokter.

Selain itu, pihaknya juga memastikan jumlah luka di tubuh korban hingga kemungkinan alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban. Barang bukti yang diamankan, kabel didapatkan di dalam pondok, tali rafia ditemukan saat pencarian di dalam tanah lokasi korban ditemukan.

“Kalau mengacu pada barang bukti bajunya, di celana memang ada satu sobekan di arah paha. Kemudian di baju ada bolong beberapa. Tapi keterangan dari dokter, bolong karena luka senjata tajam hanya satu terlihat di bajunya. Yang lainnya kemungkinan dari binatang, karena ada cakaran dan bentuk kuku dan gigi binatang,” tutupnya. (sas/uno)


BACA JUGA

Kamis, 19 November 2015 18:03

Penghitungan Suara Gunakan Sistem Online

<p><strong>TANJUNG SELOR</strong> &ndash; Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Utara…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers